Kembali Ke Mantan

Hari ini aku memutuskan untuk kembali menggunakan produk dari Apple. Produk yang aku gunakan kali ini adalah iPhone X.

Perkenalanku dengan produk-produk Apple terjadi pada tahun 2007, ketika itu aku membeli Powerbook G4 dari seorang kenalan yang sedang butuh uang untuk membayar kos dan ujian skripsi. Sejak saat itu, kekagumanku pada Apple dan inovasi berlanjut hingga tahun 2011, saat aku memutuskan untuk berpisah darinya.

Alasanku untuk mengakhiri hubungan dengan Apple cukup sederhana, yaitu dipilihnya Tim Cook sebagai pengganti Steve Jobs. Aku tidak meremehkan kemampuan Tim Cook sebagai Vice President operasional di Apple. Berkat jasa dia, Apple mampu mendistribusikan produk-produknya ke seluruh dunia.

Namun untuk urusan inovasi, aku berfikir masih ada yang lebih baik sebagai suksesor Steve Jobs.

Mungkin beberapa diantara kalian ada yang mencibir mengenai alasanku untuk tak lagi menggunakan produk-produk Apple, tapi toh ketika dikomando oleh Tim Cook, tak banyak inovasi yang dihasilkan, bahkan merek seperti Samsung mampu menyalip dominasi Apple di pasar smartphone dunia.

Ya itu sangat debatable, tapi pada intinya, suka-dan-benci adalah sebuah hal subyektif, tak pernah ada alasan logis untuk itu.

Akhir tahun 2017, Apple memperkenalkan edisi satu dasawarsa iPhone dengan memperkenalkan iPhone X. Bahkan Apple rela melompati angka 9 untuk memberikan panggung untuk merayakan ulang tahun iPhone yang kesepuluh. Saat pertama kali diluncurkan, tak pernah terbersit sedikitpun untuk memilikinya. Selain karena tidak ada sesuatu yang wah, desain iPhone X yang berponi juga membuat mataku risih saat menatap layarnya. Aku justru lebih memilih Samsung Galaxy S9+ sebagai daliy driver.

Namun seperti sebuah pepatah, masa depan tak ada yang tahu. Bulan Juni 2018 tiba-tiba aku memutuskan menukar Samsung Galaxy S9+ dengan iPhone X sebagai daily driver. Jika kalian tanya mengapa? aku tak akan bisa menjawab dengan pasti. Meskipun memang aku ingin memiliki iPhone karena alasan pekerjaan sebagai tech blogger, namun pembelian iPhone X sedikit melenceng dari niat awal yang hanya ingin meminang iPhone 6s saja.

Akhirnya, mengutip sebuah kata-kata bijak “balen is not crime” (balikan bukanlah tindakan kriminal), iPhone X akan menjadi daily driver-ku selama waktu yang belum ditentukan.

So, keep in touch and see you tomorrow!

Mengapa Aku Dipanggil Koh

“Koh Afit”, itulah nama panggilan yang sudah hampir 8 tahun melekat, biasanya teman-teman online yang memanggilku dengan sebutan itu, meskipun juga akhirnya ketika bertemu secara offline, panggilan tersebut tetap melekat.

Panggilan koh biasanya diberikan untuk orang-orang Indonesia yang memiliki darah keturunan China, namun aku tidak memiliki darah China sama sekali. Bagaimana awal mula kenapa aku bisa dipanggil dengan sebutan koh? 

Karena tidak sedikit yang penasaran dan bertanya mengapa aku bisa dipanggil “koh Afit”, maka tak ada salahnya tulisan perdana ini aku coba ceritakan mengapa “koh Afit” menjadi panggilan populerku saat ini.

2010

@wongompong

Bermula saat aku tinggal di Manado selama beberapa bulan, dan saat itu, Twitter menjadi media sosial paling populer untuk berkomunikasi dengan teman. Salah satu temanku di twitter adalah Dede Ardian atau lebih dikenal dengan sebutan @wongompong, salah seorang selebtweet playboy pada jamannya, sering bertegur sapa melalui media sosial berlogo burung biru.

Obrolan tak jauh dari gadget, karena waktu itu aku adalah seorang Apple Fanboy dan dia adalah Android user (saat Android masih cupu dan rooting masih belum semudah sekarang). Wongompong adalah orang pertama di Indonesia yang suka oprek Android.

Seperti biasa, obrolan Apple Fanboy dengan Android freak tak lebih dari ‘perang keyakinan’, mana sistem operasi yang paling baik dan seterusnya dst.

Hingga pada akhirnya, mamang Wongompong ini mengejek iPhone yang kupake adalah hape China karena memang iPhone diproduksi di China dan ada tulisannya “designed by Apple in California assembled in China”. 

Dari sini sudah paham kan mengapa aku dipanggil “koh?”

Namun tidak hanya karena hal tersebut, masih ada hal lain. Aku pernah bercerita kepada mamang Wongompong mengenai tips rayuan kepada salah seorang di Manado menggunakan ponsel BlueBerry (kloningan BlackBerry).

Pada akhirnya, karena Wongompong adalah selebtweet, dan sering memanggilku dengan sebutan koh melalui Twitter, maka follwer-nya yang sekaligus follower-ku ikut memanggilku koh. Kemudian viralitas terjadi.

BlueBerry Phone

2018

Panggilan koh Afit sudah menjadi jamak, dan sekaligus menjadi penanda. Jika ada seseorang yang memanggilku koh, bisa dipastikan mereka adalah orang-orang yeng mengenalku terlebih dahulu melalui dunia digital.

Aku sendiri tak keberatan dipanggil koh, meskipun bukan berasal dari China. Toh panggilan itu bukanlah untuk merendahkan ataupun mengejek.

Jadi jika kalian membaca tulisan ini dan kebetulan bertemu denganku, tak perlu sungkan untuk memanggilku “koh Afit”.