Categories
Travel Destination

Retropoint: Penginapan Murah dan Instagramable di Bandung

Cari penginapan murah di Bandung? sepertinya sekarang udah ga susah lagi kalau cari tempat penginapan murah di Bandung, apalagi jika kalian seorang backpacker. 

Salah satu penginapan murah di Bandung yang aku rekomendasikan adalah Retropoint, yang terletak di jalan H. Basar No 61 Bandung.

Lokasi

Lokasi penginapan ini cukup strategis, dekat dengan beberapa tempat strategis di kota Bandung. Sebut saja Stasiun Kota dan daerah tongkrongan hit, Paskal.

Memang, untuk menuju ke Retropoint, kalian harus dipandu dengan Google Maps karena jalan yang menuju kesana hanya bisa untuk satu mobil saja (satu arah). Jika ingin aman, cukup pesan ojek online saja.

Ruangan

Walaupun masuk ke kategori penginapan murah, Retropoint tetap memiliki kualitas bangunan dan interior yang bagus. Bahkan menurutku cukup Instagramable! Sebuah syarat mutlak di era millenial saat ini.

Aku sendiri suka dengan desain kamar dari Retropoint, minimalis dan ga banyak ornamen.

Yang bikin surprise adalah, adanya ruangan tidur tingkat untuk ekstra bed. Aku baru menemukan hal seperti itu di Retropoint!

Di dalam kamar juga ada TV yang bisa kita gunakan. Sayangnya aku ga terlalu berminat untuk melihat TV ketika berada di hotel. Jadi aku ga tau apakah Retropoint menyediakan saluran TV kabel atau tidak.

Mereka juga menyediakan meja-kursi yang cukup nyaman digunakan untuk bekerja. Sebagai seorang digital nomad, fasilitas ini sangat penting untuk ada.

Untuk ukuran penginapan seharga 250 ribu, ukuran kamarnya cukup luas dan bersih.

Fasilitas

Aku merasa fasilitas yang diberikan sangat baik jika dibandingkan dengan harga.

Ada free flow air putih, teh dan kopi yang bisa kalian bikin di pantri.

WiFi yang bisa digunakan secara bebas, meskipun kecepatan internetnya sangat standar serta toiletries tanpa sikat dan pasta gigi.

Overall, aku tidak akan ngomel dengan fasilitas yang didapat, meskipun jika ada perbaikan akan lebih baik lagi. Terutama untuk koneksi WiFi nya.

Kesimpulan

Jika ditanya apakah menginap di Retropoint memuaskan? Aku jawab Ya! Dengan harga 250 ribu dan mendapatkan fasilitas yang cukup untuk kebutuhan, Retropoint merupakan penginapan murah di Bandung dengan predikat value for money.

Ditambah lagi, interior yang diberikan cukup Instagramable untuk memuaskan dahaga para millenial untuk mengisi kontennya dengan feed yang estetis.

Categories
Tempat Kerja

Aeropolis: Kawasan Untuk Digital Nomad

Pertengahan Januari kemarin, aku berkesempatan menjelajahi kawasan Aeropolis Tangerang, Banten.

Kunjungan tak sengaja ini karena diajak oleh teman-teman blogger yang memang hobi jalan-jalan, atau mereka menyebut dirinya sebagai travel blogger.

Sebagai seorang digital nomad, Aeropolis ini memiliki konsep yang menarik. Terletak di dekat Bandara Internasional Sukarno-Hatta, Aeropolis sepertinya ditujukan untuk orang-orang yang suka bepergian (frequent flayer). Bisa para digital nomad ataupun kru bandara (pilot, pramugari dan semacamnya).

Fasilitas Aeropolis

Aeropolis Residence ini memiliki banyak fasilitas yang cukup membuat kita betah saat transit menuju ke lokasi selanjutnya.

Kita akan menemukan Aeropolis Apartment, Aeropolis Hotel (Swift Inn Aeropolis Airport), tempat makan (Oryx Bistro), tempat nongkrong, minimarket, pusat kebugaran, live music, dll.

Nah di bawah ini, aku akan menuliskan ulasan singkat beberapa Fasilitas yang aku coba di Aeropolis Residence.

Aeropolis Apartment

Apartment yang ditawarkan oleh Aeropolis ini ternyata cukup murah (aku membandingkannya dengan kota Jogja), yaitu 230 juta untuk yang tipe Lucent (1 kamar tidur,  dapur, ruang tv, dan kamar mandi.), dan Crystal Residence (2 kamar tidur,
ada ruang tamu, ruang makan, kamar mandi dan dapur).

Untuk tipe Crystal Residence sudah sold out.

Jika kalian tak mau membeli, dan hanya ingin menyewa, dengan harga mulai 1.8 juta per bulan, kalian sudah bisa “ngekos” di  Aeropolis Apartment, full furnish!

Aeropolis Hotel

Buat yang hanya satu-dua hari saja untuk transit di dekat bandara, Aeropolis juga menyediakan hotel yang bernama Swift Inn Aeropolis Airport.

Fasilitas yang diberikan oleh Swift Inn Aeropolis ini cukup memadai untuk transit. Kita bisa memilih jenis kamar dengan ranjang yang single atau double.

Mereka juga menyediakan toiletries, air minum gratis, AC, televisi dengan saluran mancanegara dan koneksi wifi gratis.

Ukuran kamar yang disediakan cukup kecil dan tidak ada tempat yang nyaman untuk sholat di kamar. Namun jangan khawatir, pihak hotel menyediakan musholla buat kalian yang ingin menunaikan ibadah sholat.

Untuk harga menginap per malam, rate yang diberikan cukup terjangkau, yaitu mulai 200-an ribu.

Hotel ini juga menyediakan sewa per 8 jam, jika kalian hanya menginginkan transit sebentar saja.

Oryx Bistro

Terletak di seberang hotel Swift Inn Aeropolis, tempat ini bisa menjadi tujuan kalian jika lapar mulai menyerang. Ada beberapa menu yang bisa dipilih.

Tempat ini juga enak digunakan untuk meeting kecil.

Ingin mencari suasana lain? di sebelah Oryx Bistro juga terdapat beberapa tempat ngopi dan makan yang bervariasi.

Jika kalian menginap di Hotel Swift Inn Aeropolis, maka datangilah resepsionis untuk mengambil kupon sarapan.

Live Music

Hiburan yang hadir setiap akhir pekan. Saat aku di sana, ada hiburan music akustik yang menghibur orang-orang yang tinggal atau hanya menginap di daerah Aeropolis dan sekitarnya.

Suasana di acara itu cukup ramai dengan anak-anak muda yang tampaknya sedang menikmati waktunya di akhir pekan.

Pusat Kebugaran

Aeropolis menyediakan kolam renang dan tempat gym. Aku tidak mencoba kolam renangnya (karena belum bisa berenang, haha), namun mereka memiliki kolam renang yang cukup luas.

Untuk tempat gym, mereka memiliki alat-alat yang sudah menjadi standar tempat gym yang baik. Bahkan di sana terdapat alat untuk mengukur BMI (body mass index).

Jadi, Meskipun kalian bepergian dan jauh dari rumah, tetap bisa berolahraga dengan baik dan nyaman.

Fasilitas ini gratis untuk kalian yang menginap di hotel Swift Inn Aeropolis.

Shulter Bus

Mereka juga menyediakan shuttle bus ke arah bandara dengan biaya Rp 15.000. Bis ini berangkat setiap 2 jam sekali dan beroperasi dari pukul 3 dini hari hingga 9 malam.

Jadi kalian tak perlu khawatir akan transportasi ke bandara jika menginap di Aeropolis Residence.

Namun jika kalian terburu-buru, transportasi online bisa menjadi alternatif pilihan untuk menuju bandara.

Aku sempat bilang ke mas Said sebagai pengelola Aeropolis, bahwa akan seru jika Aeropolis memiliki co-working space sendiri. Karena akan menjadi nilai tambah sebagai kawasan untuk orang-orang nomadic.

Wisata Tangerang

Ini yang bikin aku sedikit kaget sih. Selama ini aku mengira Tangerang adalah kota industry. Dan di kepalaku tidak pernah menyangka bahwa Tangerang memiliki tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Dan hey! Tangerang juga memiliki abang-none mereka sendiri yang gelarnya adalah Ning dan Nong.

Aku mengunjungi beberapa tempat yang direkomendasikan, yaitu kuliner Laksa, Kampung Bekelir dan Jembatan Berendeng.

Kuliner Laksa

Laksa yang disajikan di Tangerang memiliki tekstur mie yang berbeda. Sekilas bentuknya mirip dengan spaghetti, namun teksturnya sangat berbeda.

Mie nya sepertinya terbuar dari teupung beras dan disiram dengan kuah yang sudah dicampur dengan banyak bumbu.

Rasanya? tentu nikmat. Terlebih lagi aku menikmati Laksa Tangerang saat sedang gerimis. Syahdu.

Kampung Bekelir

Siapa sangka pemukiman kumuh bisa disulap menjadi tempat Wisata. Kampung Bekelir awal mulanya merupakan kampung kumuh yang dihuni oleh puluhan kepala keluarga. Namun karena inisiatif warga dan dukungan dari berbagai pihak, Kampung Bekelir mampu menjadi daya tarik tersendiri.

Daya tarik kampung ini terletak pada mural yang ada di setiap rumah. Mural-mural tersebut dibuat oleh ratusan seniman Indonesia.

Hadirnya mural tersebut tidak hanya membuat Kampung Bekelir menjadi berwarna, namun juga menjadikan kampung ini sebagai juara pertama tingkat nasional sebagai kampung terbaik di Indonesia.

Buat yang hobi selfie, kampung ini memiliki banyak spot yang menarik untuk bikin feed Instagram kalian tampak lebih asik.

Jembatan Berendeng

Menjadi salah satu ikon kota Tangerang. Jembatan Berendeng menghubungkan kawasan kelurahan Tangerang atau Benteng dengan Gerendeng. Jembatan ini berada di atas Sungai Cisadane.

Berkunjung di malam hari sepertinya lebih menarik, karena kita akan melihat pemandangan lampu-lampu rumah warga kota Tangerang.

Ada satu tempat ikonik yang biasa digunakan untuk berfoto, yaitu jembatan yang memiliki lantai tembus pandang. Jadi kita bisa melihat sungai dari atas.

Nah jika kebetulan kalian sedang berkunjung ke Tangerang, cobalah untuk mencoba menikmati kawasan Aeropolis. Siapa tahu tertarik untuk membeli apartment nya untuk investasi.

Categories
Gear

Razer Blade Stealth: Laptopku di Tahun 2019

Tahun 2018 sudah hamper berakhir. Mengawali tahun 2019, aku menginginkan sebuah laptop baru untuk menggantikan ZenBook 3 UX390 yang sudah tidak bisa digunakan lagi.

3 bulan lalu, aku sempat mencoba kembali MacBook Air, karena bayang-bayang kembali ke mantan kok rasanya enak.

Tapi romantisme tersebut juga tidak bertahan lama. MacBook Air 2017 yang masih seumur jagung aku jual. Sudah tidak sreg lagi.

Aku sekarang sudah lebih nyaman menggunakan Windows 10, menurutku lebih baik dibanding MacOS saat ini. Maka pilihan selanjutnya adalah laptop non-Apple.

Setelah itu, aku harus mencari laptop yang memiliki karakter desain yang mobile dan unik.

Kriteria selanjutnya adalah harga dan performa.

Yang menjadi top list saat itu adalah ROG, namun karena desain yang mobile hanya berada di rentang harga 50 juta (Zephyrus) maka otomatis aku mencoretnya.

Pilihan kedua adalah ZenBook. Namun dengan harga 25 juta dan sebelumnya aku pernah mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan dengan durabilitasnya, maka mencari opsi lain adalah hal yang kulakukan.

Pilihan ketiga, adalah Razer Blade Stealth.

Dari dulu aku penasaran ingin mencoba Laptop buatan Razer. Namun karena aku bukan seorang gamer, maka niat itu aku urung kan.

Tapi setelah Razer membuat seri Blade Stealth, ketertarikanku kembali muncul. Seri laptop ini tetap membawa desain khas Razer serta performa yang mumpuni, namun dengan harga laptop non-gaming.

Setelah mencari-cari di toko online akhirnya kutemukan Razer Blade Stealth 12.5 inchi yang sesuai dengan keinginan.

Razer Blade Stealth yang aku beli memiliki spesifikasi prosesor i7-7500U @2,75GHz, RAM 16GB dan SSD 225GB. Spesifikasi yang sudah sangat cukup untuk menunjang aktivitasku.

Meskipun secara ukuran Razer Blade Stealth ini lebih berat dibandingkan ZenBook 3 UX390-ku sebelumnya. Namun aku merasa, laptop ini masih enak buat aktivitas mobile.

Jadi, sepertinya Razer Blade Stealth akan menjadi laptopku di tahun 2019.

Namun, mengambil quote dari beberapa temanku “halah, paling cuman bertahan tiga bulan”, maka semua kemungkinan bisa terjadi.

Apakah Razer Blade Stealth bisa memecahkan rekor ZenBook 3 UX390 yang betah aku gunakan selama satu tahun lebih?

Categories
Log

Kemari Caffe: Good Coffee, Cozy Place, Slow Internet

Sudah lama aku ga nulis di blog ini. Meskipun masih tetap menganut gaya hidup nomad, namun kemalasan untuk menuangkan pengalaman bekerja di luar kantor masih belum bisa diatasi dengan baik.

Tapi, mari kita mulai satu langkah kecil proyek #OneDayOnePost dengan menuliskan pengalamanku bekerja di Kemari Caffe yang terletak di provinsi Yogyakarta.

Kemari Caffe beralamat di Jl. Pedak No.19, Tegal Tanda, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281. 

Meskipun beralamatkan di Bantul, tapi percayalah, lokasi kafe ini lebih dekat ke pusat kota Jogja daripada ke kota Bantul.

Ruangan

Kemari Café menghadirkan desain ruangan yang memadukan konsep industrial dengan berbagai jenis meja yang bisa digunakan. Ada yang dikhususkan untuk kerja, nongkrong Bersama teman ataupun kencan.

Secara keseluruhan, aku suka dengan konsepnya. Kemari Café memiliki dua lantai, lantai bawah untuk yang non-smoking, dan lantai atas untuk berkumpulnya para ahli-hisap.

Menu

Sama seperti coffee shop kekinian, Kemari menyuguhkan beberapa menu kopi dan non kopi. Tentu saja, memesan menu khas mereka adalah hal yang sering kulakukan ketika mencoba café baru.

Aku memesan Es Kopi Malaikat (kopi susu dengan gula aren) dan teh hangat khas mereka. Oh ya, aku juga memesan beberapa camilan.

Rasa kopinya menurutku sih biasa, rasa sirupnya lebih dominan dibandingkan kopinya.

Lain-lain

Kemari café memiliki toilet dan mushola. Jadi buat kalian yang ingin berlama-lama di tempat ini, tak perlu takut untuk nahan pipis dan tetap bisa sholat bagi yang muslim.

Pengalaman

Aku berada di Kemari kurang lebih 4 jam, dan pengalamanku, untuk meeting atau sekedar nongkrong Bersama teman, Kemari bisa dijadikan tempat menarik.

Namun jika kalian mencari koneksi internet, maka Kemari bukan tempat yang tepat.

Berada di daerah yang banyak coffee shop sebenarnya Kemari bisa menjadi pilihan nongkrong yang asik.

Jika kopi andalan mereka bisa ditingkatkan, serta koneksi internet dipercepat, mungkin Kemari akan lebih menyenangkan digunakan sebagai tempat nomad.

Categories
Log

ASUS ZenFone Max Pro M1: Anak Bahagia, Orang Tua Lega

Koh, hape gaming yang murah apa ya? tapi yang spek-nya bagus, biar bisa main banyak game.” 

Itulah pertanyaan yang dilontarkan salah seorang rekan kerja kepadaku. Dia tahu, aku sering mengulas berbagai macam gadget, terutama smartphone. 

Saat itu, aku heran, mengapa tiba-tiba dia menanyakan soal smartphone gaming, padahal jika dilihat dari segi usia, kira-kira dia 10 tahun lebih tua dibandingkan aku.

Saat aku tanya lebih lanjut, ternyata hape gaming tadi untuk anaknya. Si anak meminta dibelikan hape yang bisa buat nge-game lancar tanpa gangguan.

Jika ngobrolin tentang ponsel gaming, sangat lumrah jika kita beranggapan bahwa untuk bisa memiliki ponsel tersebut harus merogoh kocek yang cukup dalam. Maka dari itu, jika pertanyaan dari rekan kerjaku tadi ditanyakan sebelum tahun 2017, mungkin aku akan menjawab dengan ketus “murah kok njaluk apik!” (ind: murah kok minta bagus).

Namun karena dia menanyakannya di tahun 2018, maka aku bisa menjawab dengan pasti untuk ponsel gaming murah tapi ga murahan. Jawabnku tentu saja the one and only, ASUS ZenFone Max Pro M1!

Bukan tanpa alasan aku merekomendasikan ponsel buatan ASUS tersebut. ZenFone Max Pro M1 memiliki fitur-fitur impian para mobile gamer yang ga bisa ditolak.

Alasan pertama, ZenFone Max Pro M1 mampu melahap banyak game-game berat dengan pengaturan rata kanan a.k.a paling tinggi. Sebut saja Asphalt 8, Taken, Mobile Legends, AoV, Lineage 2, PUBG dan Marvel Future Fight tanpa ngerasain frame drop atau bikin hape terasa panas.

Alasan kedua, baterai jumbo. Ga ada yang lebih nyebelin daripada ketika baru asik main game kemudian muncul notifikasi low battery. Bagi pemain game-game MOBA seperti AoV atau Mobile Legends, pastinya bakal bikin bete kalau mengalami hal ini, karena AFK berada di depan mata.

Dengan kapasitas batera 5000 mAh, aku bisa bermain game sampai tangan kesemutan. Ya jika dipakai untuk aktivitas normal, ponsel ini bisa bertahan hingga 24 jam.

Asiknya, untuk mendapatkan kembali daya baterai hingga 100%, hanya dibutuhkan waktu kurang dari 1.5 jam saja. Hal itu karena ZenFone Max Pro M1 sudah memiliki fitur Quick Charge 4.0.

Alasan ketiga, layar yang sudah bezeless. Mengikuti tren kekinian, ZenFone Max Pro M1 sudah dibekali dengan infinity display dan bezeless. 

Dengan layar yang hampir tidak memiliki frame, membuatku lebih nyaman dalam bermain game, terutama untuk game-game yang menggunakan maps seperti AoV, Mobile Legends atau PUBG. Aku bisa melihat maps sedikit lebih luas dibandingkan jika bermain menggunakan smartphone yang belum mengadaptasi trend infinity display. 

Dan yang paling penting, ga pake poni!

Karena layarnya yang luas itu, maka hanya dengan dimensi sebesar 5.5 inchi, kita bisa mendapatkan luas layar sebesar 5,99 inchi.

Spesifikasi Teknis

Model

ZenFone Max Pro M1 (ZB602KL)

Display, Resolution

Full HD+ 2.160 x 1.080 pixel, 18:9 Full View Display 2.5D curve glass with 450nits

SoC Processor

CPU

Qualcomm Snapdragon 636 8x (octa-core) 14nanometer Kryo 260 CPU up to 1.8GHz

GPU

Qualcomm® AdrenoTM 509 GPU

Memory

RAM / Storage

LPDDR4 3GB RAM , 32GB ROM
LPDDR4 4GB RAM , 64GB ROM
LPDDR4 6GB RAM , 64GB ROM
Supports up to 256GB MicroSD, 100GB Google Drive (free 1 year)

Camera System

Rear (main) Camera

13MP / 16MP with f/2.0 Aperture, Phase Detection Auto Focus, LED flash

Rear (wide) Camera

5MP / 8MP 120o wide-angle camera for 200% wider view for bokeh effect

Front camera

8MP / 16MP, LED flash

Camera feature

PixelMaster 4.0 camera mode:
Beauty, Auto (with HDR features), Selfie Panorama, GIF Animation

Wireless

WLAN 802.11 b/g/n, Bluetooth 4.2, Wi-Fi direct

Sensor

Rear fingerprint sensor (0.3 seconds unlock, supports 5 fingerprints), Face Recognition, Accelerator, E-Compass, Proximity, Ambient Light Sensor, Gyroscope

SIM card and SD slot

Triple Slots: dual SIM, one MicroSD card
Slot 1: 2G/3G/4G Nano SIM Card
Slot 2: 2G/3G/4G Nano SIM Card
Slot 3: Supports up to 256GB MicroSD card
Both SIM card slots support 3G WCDMA / 4G LTE network band. But only one SIM card can connect to 4G LTE service at a time.

Network

FDD-LTE, TD-LTE, WCDMA, GSM
Data rate:
DC-HSPA+ (DL/UL): 42/5.76 Mbps; LTE CAT 7 (DL/UL): 300/150 Mbps, 3CA support

GPS

GPS, AGPS, Glonass, BDS

OS

Pure Android 8.0 Oreo

Battery

5.000mAh capacity with fast charging, ASUS PowerMaster technology, 2x longer battery lifespan, up to 35 days 4G standby, up to 42 hours 3G talk time, up to 20 hours video playback, up to 28 hours Wi-Fi web browsing

Audio / Microphone

Loud speaker, PMIC internal amplifier, Dual internal microphones with ASUS Noise Reduction Technology, FM Receiver

Size / Weight

159 x 76 x 8.46 mm / 180 grams

Color

Deepsea Black and Meteor Silver

Setelah mendengarkan alasan-alasan mengapa ZenFone Max Pro M1 bakal jadi smartphone yang cocok untuk anaknya yang sangat suka main game. Maka pertanyaan selanjutnya tentu masalah harga.

Aku agak lucu ketika melihat raut wajahnya yang sedikit tegang ketika bertanya soal harga. Wajar saja, dengan fitur-fitur kelas atas yang aku sebut tadi, sangat mudah bagi banyak orang untuk menduga harga dari ZenFone Max Pro M1 ini mahal.

Dan ketika aku menyebutkan harga yang hanya 2 juta lebih sedikit, raut wajah yang semula tegang berubah menjadi raut muka bahagia.

Raut muka yang menggambarkan kebahagian seorang ayah yang bisa mengabulkan permintaan anaknya, tanpa harus membuat cash flow dapur berantakan.

The End of Story…

3 hari kemudian, aku bertemu rekan kerjaku di salah satu pusat perbelanjaan di kota Yogyakarta. Sambil tersenyum dan memperlihatkan sebuah ponsel yang bagiku sangat familiar, dia berkata, “koh, makasih lho sarannya kemarin, sekarang aku bisa puas main game tanpa nge-lag”.

Di sebelahnya, seorang laki-laki berumur sekitar 13 tahun yang aku duga adalah anaknya duduk dengan wajah cemberut.

Categories
Gear

Mari Berkhayal: Laptop Keren Buat Digital Nomad

Sebagai seorang digital nomad, aku selalu menginginkan sebuah gadget yang mampu mengakomodir semua pekerjaan yang aku lakukan. Oh, buat yang belum tahu apa itu digital nomad, penjabaran dari Wikipedia mungkin agak sedikit membantu. Namun secara singkat, digital nomad adalah orang yang bekerja secara nomaden, bisa di kedai kopi, co-working space, perpustakaan umum dan sejenisnya.

Aku memulai petualanganku sebagai digital nomad sejak tahun 2011, saat aku memutuskan berhenti dari kantor lamaku. Saat itu, aktivitas utamaku adalah ngeblog (yang ternyata masih kulakukan sampai saat ini).

Selang berjalannya waktu, ternyata tak hanya ngeblog yang kulakukan. Aku sempat dan masih memiliki beberapa bisnis digital yang kukerjakan bersama beberapa partner. Ada bisnis konten, SaaS dan digital marketing. Yang paling asik dari semua itu, aku masih bisa bekerja secara nomaden, sebagai seorang digital nomad.

Ada beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh seorang digital nomad agar bisa tetap produktif, salah satunya adalah laptop yang ringkas namun tetap powerfull.

Laptop untuk seorang yang memiliki mobilitas yang cukup tinggi, tentu aku memilih kategori ultrabook. Sederhana saja, ultrabook ringan dan tidak merepotkan saat dibawa.

Laptop yang kugunakan sudah mencakup kedua hal di atas, namun seiring perkembangan dan kebutuhan, aku mulai mencari-cari beberapa merek untuk mengganti laptopku yang sekarang.

Ada beberapa merek yang kuincar untuk menggantikan laptopku saat ini. Dan yang menjadi incaran utama adalah ASUS ZenBook UX331UAL. Bukan tanpa alasan aku ingin menukar laptop lama dengan ZenBook ini.

Tipis, ringan dan ga pelit port

Salah satu tantangan sebagai orang yang sering berganti-ganti tempat kerja adalah, bagaimana tetap menjaga barang bawaan tetap ringan dan praktis saat digunakan dimanapun dan kapanpun. Laptop ZenBook UX331UAL memiliki kriteria tersebut.

Layar yang berukuran 13 inchi adalah ukuran layar ideal menurutku, tidak terlalu kecil (biasanya ultrabook ringkas berukuran di bawah 13 inchi) dan tidak terlalu besar. Bagiku, ukuran layar 13 inchi adalah ukuran pas untuk sebuah laptop.

Selain layar yang pas, laptop ini hadir dengan bobot yang sangat ringan, kurang dari 1 kilogram. Menurut data teknis yang disajikan oleh ASUS, bobot laptop ini hanyalah 985 gram. Saat aku mencoba mengangkatnya, sungguh terasa ringan. Lebih ringan daripada laptop yang kugunakan saat ini.

Dengan laptop yang ringan dan praktis, aku bisa mengerjakan tugas di mana saja dan kapan saja, bahkan ketika sedang berada di pesawat, kereta bahkan bis tanpa harus mengganggu penumpang yang duduk di sebelahku.

Tipis dan ringan, mungkin kalian akan bilang, “mas bro, yang kayak gitu udah banyak”. Oke, jika kalian maunya begitu.

Aku juga tidak akan menjadikan laptop ini target utama jika yang dijual hanyalah tipis dan ringannya saja. Dengan ketebalan yang hanya 13.9 mm saja, laptop ini masih memiliki banyak port penting, seperti port USB 3.0 (2 port), satu port Type C, port HDMI, slot microSD serta audio jack COMBO.

Nah bisa kalian cari pesaingnya? yang memiliki bodi ramping, tipis namun tetap memiliki port seperti di atas?

Keberadaan port ini tentu sangat membantu mengurangi printilan-printilan yang harus kalian bawa saat bepergian. Bayangkan jika kalian bepergian dengan laptop tipis dan ringan, tapi juga harus membawa serta dongle HDMI, USB dan semacamnya. Sungguh tidak efektif, efisien dan boros.

Intel Gen 8

Sebagai seorang yang suka mengikuti perkembangan teknologi, memiliki gadget terbaru adalah idaman. Jadi, ketika tahu bahwa ASUS ZenBook UX331UAL sudah menggunakan prosesor Intel generasi kedelapan, rasa-rasanya aku ingin sekali mencoba kemampuannya yang konon sangat powerfull itu.

Selain menggunakan prosesor Intel i5 Gen 8, laptop ini juga dibekali dengan RAM 8GB dan SSD PCIe 256GB. Perpaduan teknis yang tampaknya akan menjadi primadona semua digital nomad. 

Dengan spesifikasi tersebut, sepertinya menggunakan laptop ini untuk mengolah file video dan audio sederhana dalam perjalanan sangat mungkin dilakukan.

Beberapa hasil test pengujian menggunakan software benchmark populer seperti PCMark, 3DMark, Cinebench dan Unigine Heaven Benchmark memperlihatkan hasil sebagai berikut:

Daya tahan baterai seharian

Salah satu ketakutan seorang digtal nomad adalah, kehabisan baterai disaat yang tidak tepat. ASUS mengklaim bahwa laptop ini mampu bertahan hingga 15 jam. Bukan jumlah waktu yang sedikit.

Jika kalian sering bepergian jauh dan memakan waktu lama dalam perjalanan, daya tahan baterai adalah hal krusial. Kalian bisa mengerjakan tugas di dalam pesawat atau bis tanpa takut laptop kehabisan daya di tengah jalan.

Sensor biometrik

Salah satu fitur menarik di Windows 10 adalah Windows Halo, dimana kita bisa memproteksi laptop kita dengan menggunakan sensor biometrik (retina atau sidik jari). ASUS ZenBook UX331UAL sudah membenamkan sensor biometrik berupa sidik jari pada laptopnya.

Mengapa sensor biometrik pada laptop penting?

Menurutku, sebagai seorang digital nomad yang sering bekerja di tempat-tempat umum, tentu mengetikkan password bisa menjadi hal berbahaya, apalagi jika menggunakan Wi-Fi publik. Kita tidak akan tahu, apakah tempat tersebut aman dari hacker yang mencoba mencuri laptop dan kemudian mengambil data kita yang ada di dalamnya.

Menggunakan sensor sidik jari ketika login sudah barang tentu akan membuat kita sedikit lebih aman dan tenang ketika bekerja di tempat-tempat terbuka seperti cafe, bandara dan yang lainnya.

Keybord nyaman

Sebagai “tukang ketik”, keyboard tentu saja menjadi bagian dari laptop yang sering kugunakan. Memiliki keyboard yang nyaman adalah keharusan. Kalian pernah ga, tangan terasa capek padahal baru mengetik beberapa menit saja? Aku pernah mengalaminya saat menggunakan laptop yang struktur keyboard-nya dipangkas.

Pemangkasan ukuran keyboard jamak dilakukan oleh produsen laptop agar menghasilkan dimensi yang ringkas. Namun hal itu berdampak pada kenyamanan mengetik pengguna.

Hal itu seharusnya tidak terjadi pada ZenBook UX331UAL ini. Dengan desain keyboard yang utuh dan jarak antar tuts yang manusiawai, membuatnya tetap nyaman digunakan meskipun dalam waktu yang lama.

Keyboard laptop ini juga memiliki fitur backlit, sehingga memudahkan kita mengetik di tempat yang minim cahaya, seperti di dalam pesawat atau bis jika kita melakukan penerbangan malam.

Wi-Fi Master

Aku pernah mengalami hal yang cukup bikin bete. Saat itu, aku berada di tempat nongkrong yang dekat dengan sebuah gedung pemerintah (tentu saja aku kesana sekaligus mencari wifi gratisan dong). Namun karena lokasinya dari router teresbut cukup jauh, sinyal WiFi yang aku terima hanya satu bar saja, itupun kdang muncul, kadang enggak.

Setelah aku coba bertanya-tanya pada beberapa kenalan, penerimaan sinyal wireless tergantung reciver dan teknologi yang ada di dalamnya.

Nah, yang menarik dari laptop incaranku ini adalah, ASUS telah membenamkan fitur yang mereka sebut Wi-Fi Master. Fitur ini diklaim mampu membuat laptop mampu mendapatkan kecepatan transfer yang lebih tinggi dan jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan laptop lain pada umumnya.

Konon, dengan Wi-Fi Master ini kita masih bisa menikmati streaming YouTube dengan kualitas Full-HD pada jarak 300 meter. Dengan perpaduan antara Wi-Fi Master dan teknologi dual-band 802.11ac, laptop ini menawarkan kecepatan hingga 867Mbps. Gokil!

Kalau untuk menguji kecepatan 867Mbps, kayaknya harus ke Korea Selatan dulu kali ya?

Standar militer

Ini yang bikin aku terkaget-kaget. Ketika salah seorang tim ASUS menunjukkan laptop ZenBook UX331UAL dan mengatakan bahwa laptop tipis ini tahan banting dan sudah bersertifikat standar militer MIL-STD 810G. Penasaran dong, aku cobain untuk dinjek dan jatuhin dari ketinggian sekitar 1 meter (bisa cek di tweet-ku di sini).

“Ah kurang ekstrim itu!” Ya kalau dirasa kurang ekstrim, kalian bisa lihat uji nyalinya di YouTube-nya Raditya Dika berikut.

Jadi apa pentingnya laptop tahan banting bagi digital nomad? bagiku, sangat penting. Aku pernah punya pengalaman menyedihkan, saat aku ingin mengeluarkan laptop dari tas, tanpa sengaja aku menjatuhkan laptop tersebut ke lantai kamar hotel. Dan kemudian laptop tersebut tidak berfungsi dengan baik.

Sebelumnya, aku juga pernah merasakan bagaimana deg-deg annya menjatuhkan gadget dari kabin pesawat. Jadi saat itu, aku sedang berusaha memasukkan tas ke dalam kabin di atas tempat duduk, tanpa sengaja, gadgetku terjatuh dan membuatku menjadi pusat perhatian beberapa penumpang.

Untung saja gadget masih bisa dinyalakan kembali dengan normal. Bayangkan jika gadget tersebut rusak, sudah tentu aku akan mati gaya ketika presentasi di depan calon klien.

Standar militer pada sebuah laptop bukanlah hal baru. Namun, standar militer pada sebuah laptop yang tipis dan elegan, itu seperti oase bagiku. Bayangkan kalian memiliki pacar yang cantik, sexy namun juga tangguh. Idaman banget kan?

Spesifikasi teknis

Main Spec. ASUS ZenBook UX331UAL
CPU Intel® Core™ i5-8250U Processor, 6M Cache, up to 3.40 GHz
Operating System Windows 10 Home
Memory 8GB LPDDR3 2133MHz SDRAM
Storage 256GB SATA3 M.2 SSD
Display 13.3″ (16:9) LED backlit FHD (1920×1080) 60Hz, Ultra Slim 300nits
Graphics Integrated Intel UHD Graphics 620
Input/Output 1x micro SD card, 1x audio jack COMBO, 1x Type C USB3.0 (USB3.1 GEN1), 2x Type A USB3.1 (GEN1), 1x HDMI, Support HDMI 1.4
Camera VGA Web Camera
Connectivity Built-in Bluetooth V4.2, Integrated 802.11 AC (2×2)
Audio Built-in Stereo 1 W Speakers And Array Microphone, ASUS SonicMaster Technology

Support Windows 10 Cortana with Voice, Harman kardon

Battery 50 Whrs Polymer Battery
Dimension 310 x 216 x 13.9 mm (WxDxH)
Weight 985gr with Battery
Colors Deep Dive Blue, Rose Gold
Harga Rp 14.799.000
Warranty 2 tahun garansi global

Harga

Murah atau mahal memang tergantung dari isi kantong, namun jika dibandingkan dengan laptop dikelas yang sama, harga dari ASUS ZenBook UX331UAL cukup murah.

Kalian tidak perlu merogoh kocek lebih dari 15 juta rupiah untuk mendapatkan laptop dengan desain elegan, tipis, ringan, port lengkap, spesifikasi hardware terbaru, audio berstandar Harman-Kardon dan build material standar militer.

Aku belum menemukan laptop dikategori ultrabook yang memiliki fitur-fitur di atas yang dibanderol dengan harga di bawah 15 juta (kalau kalian tahu, silakan tinggalkan komentar yak).

Nah itulah beberapa alasan kenapa aku pingin banget ganti laptop ke ASUS ZenBook UX331UAL. Jadi, jika besok ada yang bikin gerakan #2018GantiLaptop, aku pasti akan ikut meramaikannya.

Categories
Log

Aku Dapatkan Kembali iPhone X Seharga Rp 2000,-

Beruntung, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa aku alami beberapa hari kemarin. Aku hampir saja kehilangan sebuah iPhone X ketika dalam perjalanan pulang. Tepatnya, aku tak sengaja meninggalkannya di mobil Grab yang aku tumpangi.

Setelah menyelesaikan beberapa agenda sedari pagi, akhirnya aku memutuskan untuk pulang menggunakan Grab.

Aku bukan pengguna aktif Grab, aku lebih suka memilih layanan Go-Car sebenarnya. Namun karena Grab memiliki fitur multi-trip (aku naik Grab bersama teman untuk mengirit biaya. wkwkwk), maka aku putuskan untuk menggunakan layanan tersebut.

Singkat cerita, sampailah aku di dekat rumah. Total tarif yang harus dibayar adalah Rp 38.000. Karena tidak ada uang pas, maka kuberikan 4 lembar uang 10 ribu kepada driver-nya yang bernama Avif (namanya sedikit mirip). Tentu saja driver menawarkan kembalian, namun aku tolak, hitung-hitung aku belajar memberikan tip.

Ketika masuk rumah, aku langsung menaruh tas di kamar kemudian membersihkan diri.

20 menit kemudian, aku hendak menuju ruang kerja yang ada di rumah, dan disinilah aku mulai mencari iPhone X. 5 menit tak ketemu, aku tak panik, toh aku memang orang yang teledor, suka taruh barang sembarangan dan lain sebagainya. Hingga akhirnya aku menggunakan cara terakhir, yaitu menelpon ponselku.

“Hallo”, begitu mendengar suara itu, aku sedikit kaget.

Tak sampai sedetik, suara itu kembali terdengar “saya sudah ada di tempat yang tadi, tapi saya lupa rumahnya”.

“Oh iya”, begitu kataku. Segera kututup telepon dan aku berlari menuju tempat di mana driver Grab tadi mengantarku.

Sedikit berbincang dan mengucapkan terima kasih kepada driver tersebut. Setelah driver menghilang dari pandangan, baru aku tersadar, betapa bodoh aku karena tidak memberikan balasan terima kasih yang cukup.

Melalui blog ini, sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih kepada mas Avif Roy Rahman yang sudah menjadi orang baik. Semoga rejekinya lancar dan berkah. Amin.