Categories
Gear

Razer Blade Stealth: Laptopku di Tahun 2019

Tahun 2018 sudah hamper berakhir. Mengawali tahun 2019, aku menginginkan sebuah laptop baru untuk menggantikan ZenBook 3 UX390 yang sudah tidak bisa digunakan lagi.

3 bulan lalu, aku sempat mencoba kembali MacBook Air, karena bayang-bayang kembali ke mantan kok rasanya enak.

Tapi romantisme tersebut juga tidak bertahan lama. MacBook Air 2017 yang masih seumur jagung aku jual. Sudah tidak sreg lagi.

Aku sekarang sudah lebih nyaman menggunakan Windows 10, menurutku lebih baik dibanding MacOS saat ini. Maka pilihan selanjutnya adalah laptop non-Apple.

Setelah itu, aku harus mencari laptop yang memiliki karakter desain yang mobile dan unik.

Kriteria selanjutnya adalah harga dan performa.

Yang menjadi top list saat itu adalah ROG, namun karena desain yang mobile hanya berada di rentang harga 50 juta (Zephyrus) maka otomatis aku mencoretnya.

Pilihan kedua adalah ZenBook. Namun dengan harga 25 juta dan sebelumnya aku pernah mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan dengan durabilitasnya, maka mencari opsi lain adalah hal yang kulakukan.

Pilihan ketiga, adalah Razer Blade Stealth.

Dari dulu aku penasaran ingin mencoba Laptop buatan Razer. Namun karena aku bukan seorang gamer, maka niat itu aku urung kan.

Tapi setelah Razer membuat seri Blade Stealth, ketertarikanku kembali muncul. Seri laptop ini tetap membawa desain khas Razer serta performa yang mumpuni, namun dengan harga laptop non-gaming.

Setelah mencari-cari di toko online akhirnya kutemukan Razer Blade Stealth 12.5 inchi yang sesuai dengan keinginan.

Razer Blade Stealth yang aku beli memiliki spesifikasi prosesor i7-7500U @2,75GHz, RAM 16GB dan SSD 225GB. Spesifikasi yang sudah sangat cukup untuk menunjang aktivitasku.

Meskipun secara ukuran Razer Blade Stealth ini lebih berat dibandingkan ZenBook 3 UX390-ku sebelumnya. Namun aku merasa, laptop ini masih enak buat aktivitas mobile.

Jadi, sepertinya Razer Blade Stealth akan menjadi laptopku di tahun 2019.

Namun, mengambil quote dari beberapa temanku “halah, paling cuman bertahan tiga bulan”, maka semua kemungkinan bisa terjadi.

Apakah Razer Blade Stealth bisa memecahkan rekor ZenBook 3 UX390 yang betah aku gunakan selama satu tahun lebih?

Categories
Gear

Mari Berkhayal: Laptop Keren Buat Digital Nomad

Sebagai seorang digital nomad, aku selalu menginginkan sebuah gadget yang mampu mengakomodir semua pekerjaan yang aku lakukan. Oh, buat yang belum tahu apa itu digital nomad, penjabaran dari Wikipedia mungkin agak sedikit membantu. Namun secara singkat, digital nomad adalah orang yang bekerja secara nomaden, bisa di kedai kopi, co-working space, perpustakaan umum dan sejenisnya.

Aku memulai petualanganku sebagai digital nomad sejak tahun 2011, saat aku memutuskan berhenti dari kantor lamaku. Saat itu, aktivitas utamaku adalah ngeblog (yang ternyata masih kulakukan sampai saat ini).

Selang berjalannya waktu, ternyata tak hanya ngeblog yang kulakukan. Aku sempat dan masih memiliki beberapa bisnis digital yang kukerjakan bersama beberapa partner. Ada bisnis konten, SaaS dan digital marketing. Yang paling asik dari semua itu, aku masih bisa bekerja secara nomaden, sebagai seorang digital nomad.

Ada beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh seorang digital nomad agar bisa tetap produktif, salah satunya adalah laptop yang ringkas namun tetap powerfull.

Laptop untuk seorang yang memiliki mobilitas yang cukup tinggi, tentu aku memilih kategori ultrabook. Sederhana saja, ultrabook ringan dan tidak merepotkan saat dibawa.

Laptop yang kugunakan sudah mencakup kedua hal di atas, namun seiring perkembangan dan kebutuhan, aku mulai mencari-cari beberapa merek untuk mengganti laptopku yang sekarang.

Ada beberapa merek yang kuincar untuk menggantikan laptopku saat ini. Dan yang menjadi incaran utama adalah ASUS ZenBook UX331UAL. Bukan tanpa alasan aku ingin menukar laptop lama dengan ZenBook ini.

Tipis, ringan dan ga pelit port

Salah satu tantangan sebagai orang yang sering berganti-ganti tempat kerja adalah, bagaimana tetap menjaga barang bawaan tetap ringan dan praktis saat digunakan dimanapun dan kapanpun. Laptop ZenBook UX331UAL memiliki kriteria tersebut.

Layar yang berukuran 13 inchi adalah ukuran layar ideal menurutku, tidak terlalu kecil (biasanya ultrabook ringkas berukuran di bawah 13 inchi) dan tidak terlalu besar. Bagiku, ukuran layar 13 inchi adalah ukuran pas untuk sebuah laptop.

Selain layar yang pas, laptop ini hadir dengan bobot yang sangat ringan, kurang dari 1 kilogram. Menurut data teknis yang disajikan oleh ASUS, bobot laptop ini hanyalah 985 gram. Saat aku mencoba mengangkatnya, sungguh terasa ringan. Lebih ringan daripada laptop yang kugunakan saat ini.

Dengan laptop yang ringan dan praktis, aku bisa mengerjakan tugas di mana saja dan kapan saja, bahkan ketika sedang berada di pesawat, kereta bahkan bis tanpa harus mengganggu penumpang yang duduk di sebelahku.

Tipis dan ringan, mungkin kalian akan bilang, “mas bro, yang kayak gitu udah banyak”. Oke, jika kalian maunya begitu.

Aku juga tidak akan menjadikan laptop ini target utama jika yang dijual hanyalah tipis dan ringannya saja. Dengan ketebalan yang hanya 13.9 mm saja, laptop ini masih memiliki banyak port penting, seperti port USB 3.0 (2 port), satu port Type C, port HDMI, slot microSD serta audio jack COMBO.

Nah bisa kalian cari pesaingnya? yang memiliki bodi ramping, tipis namun tetap memiliki port seperti di atas?

Keberadaan port ini tentu sangat membantu mengurangi printilan-printilan yang harus kalian bawa saat bepergian. Bayangkan jika kalian bepergian dengan laptop tipis dan ringan, tapi juga harus membawa serta dongle HDMI, USB dan semacamnya. Sungguh tidak efektif, efisien dan boros.

Intel Gen 8

Sebagai seorang yang suka mengikuti perkembangan teknologi, memiliki gadget terbaru adalah idaman. Jadi, ketika tahu bahwa ASUS ZenBook UX331UAL sudah menggunakan prosesor Intel generasi kedelapan, rasa-rasanya aku ingin sekali mencoba kemampuannya yang konon sangat powerfull itu.

Selain menggunakan prosesor Intel i5 Gen 8, laptop ini juga dibekali dengan RAM 8GB dan SSD PCIe 256GB. Perpaduan teknis yang tampaknya akan menjadi primadona semua digital nomad. 

Dengan spesifikasi tersebut, sepertinya menggunakan laptop ini untuk mengolah file video dan audio sederhana dalam perjalanan sangat mungkin dilakukan.

Beberapa hasil test pengujian menggunakan software benchmark populer seperti PCMark, 3DMark, Cinebench dan Unigine Heaven Benchmark memperlihatkan hasil sebagai berikut:

Daya tahan baterai seharian

Salah satu ketakutan seorang digtal nomad adalah, kehabisan baterai disaat yang tidak tepat. ASUS mengklaim bahwa laptop ini mampu bertahan hingga 15 jam. Bukan jumlah waktu yang sedikit.

Jika kalian sering bepergian jauh dan memakan waktu lama dalam perjalanan, daya tahan baterai adalah hal krusial. Kalian bisa mengerjakan tugas di dalam pesawat atau bis tanpa takut laptop kehabisan daya di tengah jalan.

Sensor biometrik

Salah satu fitur menarik di Windows 10 adalah Windows Halo, dimana kita bisa memproteksi laptop kita dengan menggunakan sensor biometrik (retina atau sidik jari). ASUS ZenBook UX331UAL sudah membenamkan sensor biometrik berupa sidik jari pada laptopnya.

Mengapa sensor biometrik pada laptop penting?

Menurutku, sebagai seorang digital nomad yang sering bekerja di tempat-tempat umum, tentu mengetikkan password bisa menjadi hal berbahaya, apalagi jika menggunakan Wi-Fi publik. Kita tidak akan tahu, apakah tempat tersebut aman dari hacker yang mencoba mencuri laptop dan kemudian mengambil data kita yang ada di dalamnya.

Menggunakan sensor sidik jari ketika login sudah barang tentu akan membuat kita sedikit lebih aman dan tenang ketika bekerja di tempat-tempat terbuka seperti cafe, bandara dan yang lainnya.

Keybord nyaman

Sebagai “tukang ketik”, keyboard tentu saja menjadi bagian dari laptop yang sering kugunakan. Memiliki keyboard yang nyaman adalah keharusan. Kalian pernah ga, tangan terasa capek padahal baru mengetik beberapa menit saja? Aku pernah mengalaminya saat menggunakan laptop yang struktur keyboard-nya dipangkas.

Pemangkasan ukuran keyboard jamak dilakukan oleh produsen laptop agar menghasilkan dimensi yang ringkas. Namun hal itu berdampak pada kenyamanan mengetik pengguna.

Hal itu seharusnya tidak terjadi pada ZenBook UX331UAL ini. Dengan desain keyboard yang utuh dan jarak antar tuts yang manusiawai, membuatnya tetap nyaman digunakan meskipun dalam waktu yang lama.

Keyboard laptop ini juga memiliki fitur backlit, sehingga memudahkan kita mengetik di tempat yang minim cahaya, seperti di dalam pesawat atau bis jika kita melakukan penerbangan malam.

Wi-Fi Master

Aku pernah mengalami hal yang cukup bikin bete. Saat itu, aku berada di tempat nongkrong yang dekat dengan sebuah gedung pemerintah (tentu saja aku kesana sekaligus mencari wifi gratisan dong). Namun karena lokasinya dari router teresbut cukup jauh, sinyal WiFi yang aku terima hanya satu bar saja, itupun kdang muncul, kadang enggak.

Setelah aku coba bertanya-tanya pada beberapa kenalan, penerimaan sinyal wireless tergantung reciver dan teknologi yang ada di dalamnya.

Nah, yang menarik dari laptop incaranku ini adalah, ASUS telah membenamkan fitur yang mereka sebut Wi-Fi Master. Fitur ini diklaim mampu membuat laptop mampu mendapatkan kecepatan transfer yang lebih tinggi dan jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan laptop lain pada umumnya.

Konon, dengan Wi-Fi Master ini kita masih bisa menikmati streaming YouTube dengan kualitas Full-HD pada jarak 300 meter. Dengan perpaduan antara Wi-Fi Master dan teknologi dual-band 802.11ac, laptop ini menawarkan kecepatan hingga 867Mbps. Gokil!

Kalau untuk menguji kecepatan 867Mbps, kayaknya harus ke Korea Selatan dulu kali ya?

Standar militer

Ini yang bikin aku terkaget-kaget. Ketika salah seorang tim ASUS menunjukkan laptop ZenBook UX331UAL dan mengatakan bahwa laptop tipis ini tahan banting dan sudah bersertifikat standar militer MIL-STD 810G. Penasaran dong, aku cobain untuk dinjek dan jatuhin dari ketinggian sekitar 1 meter (bisa cek di tweet-ku di sini).

“Ah kurang ekstrim itu!” Ya kalau dirasa kurang ekstrim, kalian bisa lihat uji nyalinya di YouTube-nya Raditya Dika berikut.

Jadi apa pentingnya laptop tahan banting bagi digital nomad? bagiku, sangat penting. Aku pernah punya pengalaman menyedihkan, saat aku ingin mengeluarkan laptop dari tas, tanpa sengaja aku menjatuhkan laptop tersebut ke lantai kamar hotel. Dan kemudian laptop tersebut tidak berfungsi dengan baik.

Sebelumnya, aku juga pernah merasakan bagaimana deg-deg annya menjatuhkan gadget dari kabin pesawat. Jadi saat itu, aku sedang berusaha memasukkan tas ke dalam kabin di atas tempat duduk, tanpa sengaja, gadgetku terjatuh dan membuatku menjadi pusat perhatian beberapa penumpang.

Untung saja gadget masih bisa dinyalakan kembali dengan normal. Bayangkan jika gadget tersebut rusak, sudah tentu aku akan mati gaya ketika presentasi di depan calon klien.

Standar militer pada sebuah laptop bukanlah hal baru. Namun, standar militer pada sebuah laptop yang tipis dan elegan, itu seperti oase bagiku. Bayangkan kalian memiliki pacar yang cantik, sexy namun juga tangguh. Idaman banget kan?

Spesifikasi teknis

Main Spec. ASUS ZenBook UX331UAL
CPU Intel® Core™ i5-8250U Processor, 6M Cache, up to 3.40 GHz
Operating System Windows 10 Home
Memory 8GB LPDDR3 2133MHz SDRAM
Storage 256GB SATA3 M.2 SSD
Display 13.3″ (16:9) LED backlit FHD (1920×1080) 60Hz, Ultra Slim 300nits
Graphics Integrated Intel UHD Graphics 620
Input/Output 1x micro SD card, 1x audio jack COMBO, 1x Type C USB3.0 (USB3.1 GEN1), 2x Type A USB3.1 (GEN1), 1x HDMI, Support HDMI 1.4
Camera VGA Web Camera
Connectivity Built-in Bluetooth V4.2, Integrated 802.11 AC (2×2)
Audio Built-in Stereo 1 W Speakers And Array Microphone, ASUS SonicMaster Technology

Support Windows 10 Cortana with Voice, Harman kardon

Battery 50 Whrs Polymer Battery
Dimension 310 x 216 x 13.9 mm (WxDxH)
Weight 985gr with Battery
Colors Deep Dive Blue, Rose Gold
Harga Rp 14.799.000
Warranty 2 tahun garansi global

Harga

Murah atau mahal memang tergantung dari isi kantong, namun jika dibandingkan dengan laptop dikelas yang sama, harga dari ASUS ZenBook UX331UAL cukup murah.

Kalian tidak perlu merogoh kocek lebih dari 15 juta rupiah untuk mendapatkan laptop dengan desain elegan, tipis, ringan, port lengkap, spesifikasi hardware terbaru, audio berstandar Harman-Kardon dan build material standar militer.

Aku belum menemukan laptop dikategori ultrabook yang memiliki fitur-fitur di atas yang dibanderol dengan harga di bawah 15 juta (kalau kalian tahu, silakan tinggalkan komentar yak).

Nah itulah beberapa alasan kenapa aku pingin banget ganti laptop ke ASUS ZenBook UX331UAL. Jadi, jika besok ada yang bikin gerakan #2018GantiLaptop, aku pasti akan ikut meramaikannya.

Categories
Gear

Jalan-Jalan ke Jawa Barat Hari Ketiga

Melanjutkan catatan jalan-jalan ke Jawa Barat yang sempat tertunda cukup lama, kali ini aku mau menceritakan pengalamanku di hari ketiga.

Masih berada di seputar daerah Pangandaran, hari ketiga aku khususkan untuk berjalan-jalan menyusuri beberapa pantai yang ada di sana.

Batu Karas

Meski di hari pertama aku sudah mengunjungi pantai ini, sepertinya aku butuh waktu yang lebih lama untuk bisa menikmati pantai yang menjadi tujuan wisata para surfer newbie.

Kunjungan kedua aku gunakan hanya untuk menikmati pemandangan laut dari bibir pantai saja. Hanya untuk melepas penat dari rutinitas.

Oh ya, ada biaya masuk yang dihitung per orang dan kendaraan yang digunakan.

Bojong Salawe

Tempat ini sedang dibangun untuk tol laut, dan aku penasaran dengan perkembangannya.

Tanpa diduga, tempat ini sangat Instagramable, mirip seperti landasan pacu pesawat, namun dikelilingi oleh laut.

Jadi jika kalian ingin mendapatkan pemandangan yang asik dan dramatis, segeralah untuk mendatangi tempat ini, karena bisa saja, ketika tol laut sudah jadi, kita tidak bisa bebas keluar-masuk dan berfoto di tempat itu.

Tidak ada biaya untuk tiket masuk ataupun parkir.

Di sekitar tempat itu, ada juga pelelangan ikan.

Batu Hiu

Dinamakan pantai Batu Hiu karena pintu masuknya berupa patung berbentuk kepala ikan hiu.

Di pantai ini, kita tidak diperbolehkan berenang.

Daya tarik utama dari pantai Batu Hiu adalah kita bisa menikmati laut dari tempat tinggi. Bagi kalian yang suka berfoto, tempat ini memiliki beberapa spot yang bisa digunakan.

Di sini juga ada beberapa playground seperti ayunan ataupun prosotan. Sayangnya tempat ini tidak dirawat dengan baik.

Tidak ada tiket masuk ke tempat ini, hanya ada biaya parkir.

Konservasi Penyu

Aku sudah tiga kali mengunjungi tempat ini. Sayangnya, pada kunjungan ketiga kali ini, penyu yang ditangkarkan sudah tidak sebanyak saat kunjungan pertama. Entah karena mereka sudah merilis tukik-tukik nya, atau memang ada hal lain yang menyebabkan berkurangnya penyu di sana.

Tempat konservasi ini tak terlalu luas, hanya ada 6 kolam untuk menampung penyu.

Tiket masuk cukup mahal, yaitu Rp 25.000,- tapi menurutku masih wajar untuk sebuah tempat konservasi.

Pantai Pangandaran

 

Tempat wisata mainstream ini cukup asik bagi pecinta sunrise dan sunset sekaligus. Pantai Pangandaran memiliki dua bagian, yaitu pantai Timur untuk melihat sunrise dan pantai Barat untuk melihat sunset.

Pantai Pangandaran sudah banyak berbenah dibanding saat terakhir kali aku kesana, sekarang terlihat lebih tertata. Para pedagang kaki lima sudah dilokalisasi sehingga membuat pantai terlihat bersih dan lebih luas.

Sebagai tempat wisata yang populer, pantai Pangandaran memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari hotel, transportasi hingga hiburan di sepanjang pantai.

 

Categories
Gear

Jalan Jalan ke Jawa Barat Hari Kedua

Hari kedua masih berada di kabupaten Pangandaran, kali ini mengunjungi beberapa tempat wisata yang letaknya jauh dari jalan utama. Dan di hari kedua ini, aku menikmati perjalanan dan tempat-tempat wisata yang aku kunjungi, karena tidak ada satupun yang pernah aku datangi sebelumnya.

Curug Maung

Sebuah air terjun yang masih alami. Saat aku tiba di sana, tempat itu baru dikelola selama tiga minggu. Jadi bisa terbilang masih baru.

Jalan menuju kesana juga cukup menantang, hanya ada jalan yang bisa dilalui sepeda motor saja, itupun tanah liat dan menanjak. Saat itu kondisi basah, jadi aku beberapa kali tergelincir. Jika kalian menggunakan motor trail, tentu akan lebih mudah mencapainya.

curug maung
Curug Maung

Tiket masuk seikhlasnya, dan biaya parkir Rp 2000,- untuk motor. Bagaimana jika ingin naik mobil? kalian harus memarkir sebelum jalan masuk dan berjalan kaki sekitar 500 meter.

Saat aku datang, bukan saja disambut dengan pemandangan air terjun, tapi juga pemandangan sawah yang menguning.

Tempat wisata ini masih sangat baru, jadi jika kalian ingin kesana, sebaiknya memang hanya untuk melihat atau mandi di air terjun saja.

Watu Lumpang

Tempat selfie yang berada di pegunungan, mirip dengan Bukit Panguk. Bedanya, untuk menuju kesana, akses jalannya masih belum sepenuhnya baik, namun tetap enak dilalui, bahkan untuk kendaraan roda empat.

Untuk masuk ke area ini, kita harus membayar Rp 5.000,- per orang, sudah termasuk parkir kendaraan (aku menggunakan motor).

Menurut cerita dari ibu yang menjadi pemandu kami, Watu Lumpang dimiliki dan dikelola oleh warga sekitar, termasuk ibu tersebut. Setiap tempat mempunyai pemiliknya sendiri, namun dikelola dalam satu manajemen.

Bukan hanya tempat selfie, Watu Lumpang juga menyediakan wisata caving dan kayak menyusuri sungai yang jernih. Sayangnya, aku datang di saat off-season, jadi petugas yang memandu kayak dan caving tidak berada di tempat.

Selain keindahan alamnya, hal menarik yang aku jumpai adalah, adanya mata air yang langsung bisa diminum. Mereka menamainya bla bla bla.

Satu kesalahan fatal yang aku lakukan saat mengunjungi tempat tersebut adalah, datang disaat siang hari yang terik. Bahkan kulitku terbakar karena begitu teriknya matahari saat itu.

Jadi saranku, datanglah pada saat pagi atau sore hari.

Citumang

Setelah puas di Watu Lumpang, aku langsung menuju Citumang, tempat wisata yang terkenal karena body rafting-nya. Jika kalian pernah ke gua Pindul, Citumang menawarkan hal serupa, namun dengan track yang lebih panjang dan menantang.

Pemandu dari tempat ini sepertinya berlatar belakang militer. Salah satu pemandu yang aku temui adalah mantan anggota militer.

Untuk tiketnya sendiri, Rp. 105.000,- per orang, dan sudah mendapatkan fasilitas makan.

Tips: sebaiknya jangan kesana sendirian, niscaya mereka akan enggan untuk menjadi pemandu kalian saat body rafting. Datanglah berkelompok, 5 orang atau lebih.

HAU Lodges

Salah satu tempat menarik yang masih berada di daerah Citumang. Tempat ini lebih seperti penginapan dengan konsep unik, yaitu menggunakan kontainer yang disulap sebagai kamar.

Harga kamar yang ditawarkan adalah 700 ribu untuk weekdays dan 1 jutaan untuk weekend. 

Namun bukan hanya itu, HAU Lodges juga menyediakan pemandangan sungai yang masih asri, yang bisa dinikmati melalui teras kamar ataupun cafe-nya. Di sana juga memiliki banyak spot selfie yang menarik. Selain itu, HAU Lodges kalian bisa  body rafting sebagai wisata tambahan.

Categories
Gear

Jalan-Jalan ke Jawa Barat: Hari Pertama

Hari pertama jalan jalan ke Jawa Barat, aku menuju Cijulang, kabupaten Pangandaran. Tujuan utama adalah silaturrahmi keluarga saja, tapi karena di sana banyak tempat-tempat wisata menarik, maka sekalian saja untuk menjelajahinya.

Karena tiba di sana sudah pukul 15:00, maka tidak banyak tempat yang bisa aku kunjungi pada hari itu. Hanya ada dua tempat yang memang menjadi langgananku ketika berkunjung ke Cijulang.

Banyu Sagara

Jalan jalan ke Jawa Barat
Menu Favorit di Banyu Sagara

Tempat makan yang menjual menu makanan laut dan air tawar. Lokasinya berada di dekat tempat wisata Green Canyon. Aku suka ke tempat ini karena menu yang disajikan sangat enak, terutama ikan bakar.

Aku memesan menu 1 kilogram ikan bakar, 1 nasi liwet, lalapan dan cumi goreng.

Di daerah Green Canyon, ada beberapa tempat makan yang terkenal dengan ikan bakarnya. Selain Banyu Sagara, ada juga Taman Bahari yang letaknya persis di seberang Green Canyon. Soal rasa tak jauh beda, hanya di Taman Bahari sedikit lebih mahal.

Pantai Batu Karas

Pantai yang menjadi favoritku di daerah ini. Tak terlalu besar, bersih dan memiliki ombak yang bersahabat. Oleh karenanya, pantai ini sering dipakai untuk belajar berselancar. Tentunya kita diperbolehkan untuk berenang di pantai tersebut.

Jangan khawatir jika kalian tak membawa papan seluncur, karean di pantai tersebut, kalian akan dengan mudah menemukan paapan seluncur ataupun pelampung yang bisa disewa.

Tak perlu khawatir jika kalian tidak suka bermain air, kalian bisa menyewa tikar dan hanya melihat laut dan merasakan semlir angin yang berhembus.

Atau jika kalian ingin mendapatkan pemandangan dari atas, cukup naik ke bukit melalui tangga untuk duduk-duduk sambil melihat pemandangan pantai Batu Karas dari atas.

Aman buat berenang dan surfing

Buat yang ingin menginap di sana, ada beberapa tempat penginapan yang bisa disewa dengan harga mulai dari 200 ribu.

Di tempat itu ada mie ayam dan cilok yang enak.

Categories
Gear

Gadget Untuk Trip Jawa Barat

Bulan Desember kemarin aku memutuskan untuk menjelajahi kota Solo, bulan ini aku menjadwalkan untuk jalan-jalan ke beberapa tempat di Jawa Barat.

Rencananya, aku akan bepergian selama 10 hari, entah berapa tempat yang bisa aku singgahi nanti. Yang jelas aku mempersiapkan beberapa hal sebelum melakukan jalan-jalan menuju ke Barat, terutamanya adalah gadget-gadget yang harus aku bawa.

Jadi inilah yang ada di dalam tas gadget-ku:

ASUS ZenBook 3

Sebagai seorang digital nomad, sudah tentu laptop adalah barang yang tak boleh tertinggal. Fungsinya jelas, untuk memantau pekerjaan dan bisa tetap bekerja disela-sela menikmati keindahan suatu tempat (review ZenBook 3).

Tentu saja gagdet tambahan seperti mouse, dongle dan card reader tak ketinggalan dibawa.

ASUS ZenFone 3

Menjadi daily driver smartphone tahun 2018 ini (so far). Desainnya yang cantik dan nyaman digenggam adalah alasan mengapa aku masih menggunakan smartphone keluaran tahun 2016 ini sebagai ponsel utama.

Selain sebagai alat komunikasi dan update pencitraan di media sosial, ZenFone 3 juga aku gunakan sebagai alat tethering agar ZenBook 3 ku bisa online (review ZenFone 3).

ASUS ZenPower

Aku memiliki tiga buah powerbank yang kesemuanya bermerk ASUS. ZenPower, ZenPower Pro dan ZenPower Slim. Ketiganya aku bawa semua. Karena aku banyak membawa gadget, membawa perbekalan powerbank lebih dari satu tentu lebih bijak.

MiFi Andromax M3Y

MiFi cadangan jikalau koneksi XL-ku bermasalah. Daripada bengong dan tidak ada wifi terdekat, membawa MiFi sebagai cadangan bukanlah hal buruk (review MiFi Andromax).

Kamera Sony a6300

Jika selama ini aku hanya mengoprek smartphone, maka di tahun 2018 aku ingin belajar keahlian baru. Oleh karenanya Sony A6300 ini aku bawa untuk mengasah kemampuan foto dan video ku agar bisa menjadi lebih baik.

Tentu tak lupa 2 baterai cadangan, charger dan beberapa kartu memori cadangan juga ikut serta.

Hardisk Transcend

Buat backup foto atau video perjalanan, jikalau nanti kartu memori dari kamera tidak lagi cukup. Bawa hardisk tipe StoreJet 1TB yang memiliki cover karet dan tahan guncangan.

Kindle Fire

Selain ingin mempelajari kemampuan baru dibidang foto dan video, tahun 2018 ini aku juga ingin bisa memperbanyak baca buku. Jadilah Kindle Fire akan menjadi gadget yang selalu kubawa kemana saja. Buat hiburan dan biar bisa menyelesaikan salah satu resolusi 2018.

Tripod

Untuk persiapan, siapa tahu bakal bikin video timelapse atau swafoto. Aslinya sih agak malas bawa tripod, tapi beberapa pengalaman sebelumnya, lebih baik menyesal bawa dibandingkan menyesal tidak membawa tripod.

Xiaomi YiCam

Buat bikin footage biar ga repot keluarin kamera dari tas.

Jadi itulah beberapa gadet yang aku bawa untuk menuju perjalanan ke Barat. Mudah-mudahan trip kali ini bakal mendapatkan pengalaman baru yang asik.

Categories
Gear

Panguk Kediwung: Menikmati Pemandangan Wakanda nya Jogja

Jika kalian sudah melihat film Marvel berjudul Black Panther, tentu tidak asing dengan nama Wakanda, sebuah negara kecil yang memiliki teknologi maju dan pemandangan yang indah.

Di Jogja, atau tepatnya daerah kabupaten Bantul, ada daerah yang memiliki pemandangan yang tak kalah indahnya dengan Wakanda. Namanya adalah Panguk Kediwung.

Wakanda

Penguk Kediwung masih terletak di daerah wisata Mangunan, alamat lengkapnya ada di Kediwung, Mangunan, Dlingo, Mangunan, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55783. Cukup mudah untuk kesana, karena ada petunjuk jalan yang mudah diikuti.

Saran saya, jangan gunakan transportasi online, karena nanti kalian akan kewalahan mendapatkan kendaraan saat ingin kembali pulang.

Panguk Kediwung

Daerah Panguk Kediwung menawarkan pemandangan alam yang menengkan, terlebih jika kalian datang ketika matahari baru saja menampakkan sedikit sinarnya. Pemandangan bukit yang diselimuti kabut membuat kesan dramatis dan menenangkan. Aku biasanya menikmati pemandangan ini sambil ditemani kopi panas sambil ngobrol bersama teman-teman.

Pemberian Tuhan yang Instagrammable tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh para penduduk sekitar. Di tempat tersebut ada banyak spot untuk berfoto dengan pemandangan yang asik.

Panguk Kediwung
Salah satu spot foto

Untuk bisa berfoto di satu spot, kita diharuskan membayar Rp 3000,- saja. Cukup murah. Tapi jika kalian pelit mengeluarkan uang, jangan khawatir, ada satu spot yang bisa kalian gunakan secara gratis untuk berfoto.

Tiket masuk ke Panguk Kediwung cukup murah, aku dan ketiga temanku (satu mobil) cukup membayar Rp 15.000,-. Sudah termasuk tiket parkir.

Salah dua spot untuk foto

 

Fasilitas di sana cukup lengkap, ada mushola, kamar mandi dan warung makan. Harga yang dibanderol juga wajar, seperti harga makanan di Jogja pada umumnya.

Sebagai ilustrasi, kami memesan 2 makan berat dengan lauk 2 kepala dan 2 ati ampela ayam kampung, 6 teh, 4 air mineral gelas dan 1 kopi yang digunting, cukup membayar Rp 52.000 saja.

Salah satu menu yang aku pesan

Selain pemandangannya yang indah, keramahan dari pengelola tempat wisata tersebut patut diberi kredit tersendiri. Mereka seperti memiliki prosedur standar untuk menyambut dan mengantarnya kembali. Hal yang sangat jarang aku temukan di tempat-tempat wisata Jogja.

Buat para digital nomad yang ingin mencoba mencari inspirasi, tempat ini juga bisa digunakan. Meski tidak ada akses WiFi, namun beberapa operator (aku mencoba XL dan Indosat) bisa menangkap sinyal 4G dengan baik. Colokan? jangan khawatir, beli aja makanan dan minuman di salah satu warung makan, dan kalian bisa nunut mengisi daya smartphone atau laptop.

Jadi apakah Panguk Kediwung adalah tempat yang cocok untuk dikunjungi ketika berwisata ke Jogja? jika kalian adalah penggemar wisata alam dan suka membanjiri feed Instagram dengan foto-foto nan indah, maka tempat ini adalah pilihan tepat.