Categories
Nomadic Life

Festival Tanjung Kelayang Belitung: Pengalaman Unik dan Menyenangkan

Tahun ini, aku beruntung banget bisa menyaksikan festival Tanjung Kelayang yang kedua. Festival tahunan ini adalah yang kedua, yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung.

Festival Tanjung Kelayang ini termasuk 100 event tahunan yang dicanangkan langsung oleh pemerintah Republik Indonesia melalui kementrian pariwisata.

Di festival kali ini, aku banyak melihat parade kebudayaan baru di kabupaten Laskar Pelangi ini. Bukan hanya budaya dari warga Belitong, aku bisa melihat berbagai budaya dari berbagai daerah di Indonesia di Parade Budaya.

Menurut Bapak Rohili, Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Belitung, kabupaten ini ditinggali berbagai macam suku dan etnis yang ada di seluruh Indonesia. Dan mereka bisa berbaur dengan damai dan saling menghargai satu sama lain.

festival tanjung kelayang

Selain Parade Budaya, festival Tanjung Kelayang 2019 juga menampilkan drama kolosal, lomba membuat bentuk dari pasir pantai, lomba lukis, fotografi dll. Yang membuatku tersenyum adalah, dinas pariwisata Belitung membuat kompetisi vlog di festival ini.

Menurut Bapak Rohili, kompetisi vlog ini bertujuan untuk mengajak anak-anak muda di Belitung menjadi aktif dan kreatif memanfaatkan channel digital yang ada sebagai wadah untuk membuat karya yang bisa yang digunakan sebagai promosi wisata Belitong.

Ada satu hal menarik tentang kalimat “lets go Belitung” yang menjadi slogan dari kabupaten tersebut. Aku mengira, slogan tersebut berarti mengajak orang untuk mengunjungi Belitong, namun ternyata tidak.

Menurut pak Rohili, slogan tersebut menggambarkan bahwa “Belitung ayo pergi” yang artinya Belitong bergerak untuk terus tumbuh dengan subur dan melaju dengan pesat di berbagai sektor, termasuk pariwisata.

festival tanjung kelayang

Belitong merupakan tempat yang indah dan masih asri. Beberapa orang lokal mengatakan kepadaku sebuah mitos, “barangsiapa yang pernah meminum air di sana, maka orang tersebut akan kembali lagi.”

Well, harus diakui, Belitong memang tempat yang ngangenin. Meski belum tahu kapan, tapi aku sudah berniat untuk kembali lagi kesana.

Lets Go Belitung!

Categories
Travel Destination

Fat Oppa: Tempat Makan Korea Murah Bandung

Pengalaman baru lain ketika jalan-jalan ke Bandung bersama rombongan blogger ASUS adalah makan di tempat makan Korea murah di Bandung. Fat Oppa adalah tempat makan yang kami tuju.

Fat Oppo terletak di Jl. Karapitan No.82 Paledang Kec. Lengkong Kota Bandung. Tempatnya berada di pinggir jalan persis, sehingga dapat ditemukan dengan mudah. Di aplikasi ojek online-pun, lokasinya bisa ditemukan dengan mudah.

Ruangan dari Fat Oppa tidak terlalu luas, tapi juga ga terlalu sempit. Ada beberapa meja yang bisa digunakan untuk 4 orang dan ada juga meja lesehan yang bisa kalian gunakan untuk makan rame-rame. Seperti yang aku lakukan bersama teman-teman blogger.

Fat Oppa menawarkan beragam menu makanan Korea yang bisa dipesan. Kebetulan, karena kami datang ber-banyak, maka kami memutuskan memesan semua menu yang ditawarkan oleh mereka.

 

 

Barbeque Platter. Menu seharga Rp 65.000 ini menawarkan irisan daging sapi dengan 5 saus bumbu, yaitu Smokey honey, Soy Garlic, Garlic Sesame, Madu Gochujang, dan Lemon Herb.

 

Korean Barbeque. Aku lupa harganya. Sesuai namanya, kita akan diberikan beberapa irisan daging dan sayuran. Jenis menu ini adalah yang biasa kalian lihat di drama korea, yaitu ketika makan menggunakan salada sebagai pembungkusnya.

Oh iya, kalian bisa minta refil sayuran dan kimchi-nya lho.

Budae Jjigae. Harga per porsinya Rp 45.000. Semacam makanan yang direbus. Terdiri dari mie, tahu, Tteokbokki, sosis, bawang bombay dsb, aku ga terlalu inget detilnya.

Oden. Ada dua jenis Oden yang bisa kalian pesan, yang berkuah dan goreng. Harga masing-masing Oden tersebut cukup Rp 18.000.

Oh ya, meskipun Fat Oppa hanya menyediakan makanan Korea, namun semua menu yang disajikan halal. Jadi kalian yang muslim ga perlu khawatir untuk makan di Fat oppa.

Kalau ditanya mana yang aku suka, Barbeque Platter dan Korean Barbeque adalah pilihanku.

Categories
Travel Destination

Abadi Bagelen: Oleh-Oleh Khas Bandung Pembawa Kenangan

Jika berbicara soal oleh-oleh khas Bandung, akan ada berbagai macam oleh-oleh yang bisa dibeli. Temanku merekomendasikan Bagelen yang dijual di toko oleh-oleh Abadi Bagelen.

Pertama, aku tidak tahu apa itu Bagelen. Oleh karenanya aku dengan senang hati menuju ke Abadi Bagelen untuk mencobanya. Setelah sampai di sana dan mengetahui apa itu Bagelen, aku tersenyum lebar.

Bagelen ternyata adalah roti lapis sederhana yang terdiri dari roti lapis mirip burger dan diisi dengan krim vanila.

Meskipun sederhana, Bagelen ini merupakan jenis makanan yang everlasting, tidak tergerus oleh jaman. Makanan ini ternyata sudah aku kenal sejak kecil. Ibu ku sering membelikannya ketika pagi untuk sarapan (aku bukan tipe orang yang suka sarapan berat), sebelum berangkat sekolah.

Dan benar saja, ketika aku mencobanya, pikiranku langsung memutar kenangan masa kecil. Rasa khas Bagelen sangat terasa, meskipun secara keseluruhan, Bagelen yang dibuat oleh Abadi Bagelen lebih enak, baik rotinya maupun krim vanila nya.

Saat aku tanya ke pemiliknya, resep Bagelen miliknya sangat otentik dan masih asli sejak generasi pertama. Resepnya langsung datang dari Belanda dan tidak mereka ubah sedikitpun hingga sekarang. Tentu saja, mereka menolak secara halus ketika aku meminta untuk melihat proses pembuatannya. Mungkin takut rahasia nya terungkap.

Untuk menjaga agar eksis di era millenial, mereka mengubah kemasannya agar menarik kaum muda. Mereka membuat kemasan yang Instagramable. Namun soal rasa, mereka tetap menjaga keasliannya.

Selain menjual roti Bagelen basah (warmbollen), mereka juga menyediakan varian kering. Dengan bentuk yang lebih kecil dan tekstur yang berbeda, roti Bagelen kering ini sangat cocok sebagai camilan ketika sore hari sambil ditemani secangkir teh hangat atau kopi tanpa gula.

Layaknya toko oleh-oleh pada umumnya, Abadi Bagelen juga menjual berbagai oleh-oleh khas Bandung lainnya. Salah satu yang aku icip adalah kue jahe (yang aku lupa namanya) dengan bentuk orang Belanda. Rasanya cukup enak dan jahe-nya tiadk terlalu mendominasi. Jadi masih aman untuk perut.

Sayangnya, karena memang aku meniatkan untuk mencoba roti Bagelannya saja (baca: duit terbatas), hanya tiga makanan itulah yang aku icip.

Jika memang ada kesempatan ke Bandung lagi, sepertinya aku akan mampir ke toko tersebut untuk membeli Bagelen basah nya.

Jika kalian ingin kesana, toko Abadi Bagelen terletak di jalan Purnawarman 49, Bandung, atau bisa langsung kunjungi Instagram nya di @abadibagelen.

Categories
Travel Destination

Retropoint: Penginapan Murah dan Instagramable di Bandung

Cari penginapan murah di Bandung? sepertinya sekarang udah ga susah lagi kalau cari tempat penginapan murah di Bandung, apalagi jika kalian seorang backpacker. 

Salah satu penginapan murah di Bandung yang aku rekomendasikan adalah Retropoint, yang terletak di jalan H. Basar No 61 Bandung.

Lokasi

Lokasi penginapan ini cukup strategis, dekat dengan beberapa tempat strategis di kota Bandung. Sebut saja Stasiun Kota dan daerah tongkrongan hit, Paskal.

Memang, untuk menuju ke Retropoint, kalian harus dipandu dengan Google Maps karena jalan yang menuju kesana hanya bisa untuk satu mobil saja (satu arah). Jika ingin aman, cukup pesan ojek online saja.

Ruangan

Walaupun masuk ke kategori penginapan murah, Retropoint tetap memiliki kualitas bangunan dan interior yang bagus. Bahkan menurutku cukup Instagramable! Sebuah syarat mutlak di era millenial saat ini.

Aku sendiri suka dengan desain kamar dari Retropoint, minimalis dan ga banyak ornamen.

Yang bikin surprise adalah, adanya ruangan tidur tingkat untuk ekstra bed. Aku baru menemukan hal seperti itu di Retropoint!

Di dalam kamar juga ada TV yang bisa kita gunakan. Sayangnya aku ga terlalu berminat untuk melihat TV ketika berada di hotel. Jadi aku ga tau apakah Retropoint menyediakan saluran TV kabel atau tidak.

Mereka juga menyediakan meja-kursi yang cukup nyaman digunakan untuk bekerja. Sebagai seorang digital nomad, fasilitas ini sangat penting untuk ada.

Untuk ukuran penginapan seharga 250 ribu, ukuran kamarnya cukup luas dan bersih.

Fasilitas

Aku merasa fasilitas yang diberikan sangat baik jika dibandingkan dengan harga.

Ada free flow air putih, teh dan kopi yang bisa kalian bikin di pantri.

WiFi yang bisa digunakan secara bebas, meskipun kecepatan internetnya sangat standar serta toiletries tanpa sikat dan pasta gigi.

Overall, aku tidak akan ngomel dengan fasilitas yang didapat, meskipun jika ada perbaikan akan lebih baik lagi. Terutama untuk koneksi WiFi nya.

Kesimpulan

Jika ditanya apakah menginap di Retropoint memuaskan? Aku jawab Ya! Dengan harga 250 ribu dan mendapatkan fasilitas yang cukup untuk kebutuhan, Retropoint merupakan penginapan murah di Bandung dengan predikat value for money.

Ditambah lagi, interior yang diberikan cukup Instagramable untuk memuaskan dahaga para millenial untuk mengisi kontennya dengan feed yang estetis.

Categories
Tempat Kerja

Aeropolis: Kawasan Untuk Digital Nomad

Pertengahan Januari kemarin, aku berkesempatan menjelajahi kawasan Aeropolis Tangerang, Banten.

Kunjungan tak sengaja ini karena diajak oleh teman-teman blogger yang memang hobi jalan-jalan, atau mereka menyebut dirinya sebagai travel blogger.

Sebagai seorang digital nomad, Aeropolis ini memiliki konsep yang menarik. Terletak di dekat Bandara Internasional Sukarno-Hatta, Aeropolis sepertinya ditujukan untuk orang-orang yang suka bepergian (frequent flayer). Bisa para digital nomad ataupun kru bandara (pilot, pramugari dan semacamnya).

Fasilitas Aeropolis

Aeropolis Residence ini memiliki banyak fasilitas yang cukup membuat kita betah saat transit menuju ke lokasi selanjutnya.

Kita akan menemukan Aeropolis Apartment, Aeropolis Hotel (Swift Inn Aeropolis Airport), tempat makan (Oryx Bistro), tempat nongkrong, minimarket, pusat kebugaran, live music, dll.

Nah di bawah ini, aku akan menuliskan ulasan singkat beberapa Fasilitas yang aku coba di Aeropolis Residence.

Aeropolis Apartment

Apartment yang ditawarkan oleh Aeropolis ini ternyata cukup murah (aku membandingkannya dengan kota Jogja), yaitu 230 juta untuk yang tipe Lucent (1 kamar tidur,  dapur, ruang tv, dan kamar mandi.), dan Crystal Residence (2 kamar tidur,
ada ruang tamu, ruang makan, kamar mandi dan dapur).

Untuk tipe Crystal Residence sudah sold out.

Jika kalian tak mau membeli, dan hanya ingin menyewa, dengan harga mulai 1.8 juta per bulan, kalian sudah bisa “ngekos” di  Aeropolis Apartment, full furnish!

Aeropolis Hotel

Buat yang hanya satu-dua hari saja untuk transit di dekat bandara, Aeropolis juga menyediakan hotel yang bernama Swift Inn Aeropolis Airport.

Fasilitas yang diberikan oleh Swift Inn Aeropolis ini cukup memadai untuk transit. Kita bisa memilih jenis kamar dengan ranjang yang single atau double.

Mereka juga menyediakan toiletries, air minum gratis, AC, televisi dengan saluran mancanegara dan koneksi wifi gratis.

Ukuran kamar yang disediakan cukup kecil dan tidak ada tempat yang nyaman untuk sholat di kamar. Namun jangan khawatir, pihak hotel menyediakan musholla buat kalian yang ingin menunaikan ibadah sholat.

Untuk harga menginap per malam, rate yang diberikan cukup terjangkau, yaitu mulai 200-an ribu.

Hotel ini juga menyediakan sewa per 8 jam, jika kalian hanya menginginkan transit sebentar saja.

Oryx Bistro

Terletak di seberang hotel Swift Inn Aeropolis, tempat ini bisa menjadi tujuan kalian jika lapar mulai menyerang. Ada beberapa menu yang bisa dipilih.

Tempat ini juga enak digunakan untuk meeting kecil.

Ingin mencari suasana lain? di sebelah Oryx Bistro juga terdapat beberapa tempat ngopi dan makan yang bervariasi.

Jika kalian menginap di Hotel Swift Inn Aeropolis, maka datangilah resepsionis untuk mengambil kupon sarapan.

Live Music

Hiburan yang hadir setiap akhir pekan. Saat aku di sana, ada hiburan music akustik yang menghibur orang-orang yang tinggal atau hanya menginap di daerah Aeropolis dan sekitarnya.

Suasana di acara itu cukup ramai dengan anak-anak muda yang tampaknya sedang menikmati waktunya di akhir pekan.

Pusat Kebugaran

Aeropolis menyediakan kolam renang dan tempat gym. Aku tidak mencoba kolam renangnya (karena belum bisa berenang, haha), namun mereka memiliki kolam renang yang cukup luas.

Untuk tempat gym, mereka memiliki alat-alat yang sudah menjadi standar tempat gym yang baik. Bahkan di sana terdapat alat untuk mengukur BMI (body mass index).

Jadi, Meskipun kalian bepergian dan jauh dari rumah, tetap bisa berolahraga dengan baik dan nyaman.

Fasilitas ini gratis untuk kalian yang menginap di hotel Swift Inn Aeropolis.

Shulter Bus

Mereka juga menyediakan shuttle bus ke arah bandara dengan biaya Rp 15.000. Bis ini berangkat setiap 2 jam sekali dan beroperasi dari pukul 3 dini hari hingga 9 malam.

Jadi kalian tak perlu khawatir akan transportasi ke bandara jika menginap di Aeropolis Residence.

Namun jika kalian terburu-buru, transportasi online bisa menjadi alternatif pilihan untuk menuju bandara.

Aku sempat bilang ke mas Said sebagai pengelola Aeropolis, bahwa akan seru jika Aeropolis memiliki co-working space sendiri. Karena akan menjadi nilai tambah sebagai kawasan untuk orang-orang nomadic.

Wisata Tangerang

Ini yang bikin aku sedikit kaget sih. Selama ini aku mengira Tangerang adalah kota industry. Dan di kepalaku tidak pernah menyangka bahwa Tangerang memiliki tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Dan hey! Tangerang juga memiliki abang-none mereka sendiri yang gelarnya adalah Ning dan Nong.

Aku mengunjungi beberapa tempat yang direkomendasikan, yaitu kuliner Laksa, Kampung Bekelir dan Jembatan Berendeng.

Kuliner Laksa

Laksa yang disajikan di Tangerang memiliki tekstur mie yang berbeda. Sekilas bentuknya mirip dengan spaghetti, namun teksturnya sangat berbeda.

Mie nya sepertinya terbuar dari teupung beras dan disiram dengan kuah yang sudah dicampur dengan banyak bumbu.

Rasanya? tentu nikmat. Terlebih lagi aku menikmati Laksa Tangerang saat sedang gerimis. Syahdu.

Kampung Bekelir

Siapa sangka pemukiman kumuh bisa disulap menjadi tempat Wisata. Kampung Bekelir awal mulanya merupakan kampung kumuh yang dihuni oleh puluhan kepala keluarga. Namun karena inisiatif warga dan dukungan dari berbagai pihak, Kampung Bekelir mampu menjadi daya tarik tersendiri.

Daya tarik kampung ini terletak pada mural yang ada di setiap rumah. Mural-mural tersebut dibuat oleh ratusan seniman Indonesia.

Hadirnya mural tersebut tidak hanya membuat Kampung Bekelir menjadi berwarna, namun juga menjadikan kampung ini sebagai juara pertama tingkat nasional sebagai kampung terbaik di Indonesia.

Buat yang hobi selfie, kampung ini memiliki banyak spot yang menarik untuk bikin feed Instagram kalian tampak lebih asik.

Jembatan Berendeng

Menjadi salah satu ikon kota Tangerang. Jembatan Berendeng menghubungkan kawasan kelurahan Tangerang atau Benteng dengan Gerendeng. Jembatan ini berada di atas Sungai Cisadane.

Berkunjung di malam hari sepertinya lebih menarik, karena kita akan melihat pemandangan lampu-lampu rumah warga kota Tangerang.

Ada satu tempat ikonik yang biasa digunakan untuk berfoto, yaitu jembatan yang memiliki lantai tembus pandang. Jadi kita bisa melihat sungai dari atas.

Nah jika kebetulan kalian sedang berkunjung ke Tangerang, cobalah untuk mencoba menikmati kawasan Aeropolis. Siapa tahu tertarik untuk membeli apartment nya untuk investasi.

Categories
Tempat Kerja

Aroma Kasongan: Tempat Yang Cocok Saat Butuh Inspirasi

Aroma Kasongan adalah tempat baru yang aku datangi kali ini. Sebagai pekerja digital yang dituntut untuk terus belajar hal-hal baru, terkadang aku mengalami kebuntuan mencari inspirasi atau ide ide keren untuk membantu pekerjaanku.

Jika sudah seperti itu, maka solusinya adalah bekerja di tempat yang rileks dan alami.

Beruntung, di Jogja, tepatnya di kabupaten Bantul, ada tempat yang bisa membantuku untuk bisa rileks dan tetap bekerja dengan nyaman.

Ruangan Aroma Kasongan

Aroma Kasongan, merupakan semacam cafe (mereka menyebutnya warung) yang memiliki konsep klasik dengan interior yang mayoritas terbuat dari kayu jati. Mirip dengan Kedai Den Wir, namun interiornya lebih tertata.

Ada dua ruangan yang tersedia di Aroma Kasongan, luar ruangan dan yang berada di dalam ruangan. Dan sepertinya semua ruangan ini diperbolehkan untuk merokok.

Aku lebih suka bekerja di luar ruangan karena ada pemandangan sawah yang hijau. Hal terbaik yang ada di tempat ini.

Jika tidak ingin bekerja, Aroma Kasongan juga enak buat ngobrol bersama teman atau pasangan.

Semilir angin yang berhembus setiap saat bisa menambah semangat bekerja, tapi bisa juga bikin mata megantuk, apalagi jika kalian datang pada siang hari. Sungguh melenakan.

Hati-hati juga dengan penyakit masuk angin jika kalian sudah masuk usia uzur :p

Akses Internet

Syarat wajib untuk bekerja dengan nyaman adalah akses internet kencang. Aroma Kasongan memberikan hal itu. Hasil tes kecepatan yang aku dapatkan tidak mengecewakan.

Tidak hanya di atas kertas, pengalaman menggunakan akses internet di tempat ini sangat memuaskan, mengunduh beberapa file dengan ukuran besar tidak membutuhkan waktu lama.

Akses internet di tempat ini sungguh menyenangkan!

Speedtest Aroma Kasongan

Lain-Lain

Aroma Kasongan
Menu Aroma Kasongan

Menu makanan yang disajikan tidak terlalu banyak variasinya. Soal rasa, makanan yang disajikan cukup enak. Aku memesan es Gula Asem, teh panas dan tahu isi jamur. Total pengeluaran Rp 40.000,-. Aku cukup puas.

Kekurangannya, aku tidak menemukan tempat sholat, jadi agak susah jika harus bekerja dalam waktu yang lama.

Pengalaman

Aku cukup puas bekerja di sini, selain koneksinya yang cepat, suasana dari tempat ini cukup rileks dan nyaman. Waktu terasa lambat, berbeda ketika aku bekerja di tempat lain.

Jika kalian adalah pelancong, maka menuju tempat ini sungguh menyenangkan. Warung ini tepat berada di area desa wisata. Jadi kalian bisa sekalian berbelanja barang-barang kerajinan khas Kasongan.

Sekedar saran, datanglah pada sore hari agar bisa menikmati suasana yang lebih syahdu.

Lokasi: klik di sini.

Aroma Kasongan aku beri skor 9/10.

Categories
Tempat Kerja

Hotel Sahid Jaya Solo: Bukan Untuk Digital Nomad Millenial

Jika pada kunjungan pertama ke kota Solo aku menginap di Hotel Fave Adisucipto, maka pada kunjungan kedua, aku memutuskan untuk menginap di Hotel Sahid Jaya Solo.

Jadi inilah kesanku sebagai digital nomad saat menginap satu malam di hotel Sahid Jaya Solo.

Aku memesan hotel ini melalui aplikasi Traveloka dan mendapatkan harga 300-an ribu. Aku pesan yang twin bed (karena paling murah), tapi ketika check-in, aku bisa mengubahnya menjadi yang single bed.

Ruangan

Yang aku suka dari ruangan Hotel Sahid Jaya Solo adalah ukurannya yang besar dan luas. Karena memang hotel ini adalah hotel yang ditujukan untuk trip keluarga atau bisnis.

Yang tidak aku suka, interior dari hotel ini jadul dan bergaya 90-an. Jadi buat kalian para millenial, tentu hotel ini bukan pilihan tepat, karena interiornya tidak canti jika diunggah ke Instagram

Karena ruangan luas, maka di kamar hotel ini aku mendapatkan meja kerja yang cukup nyaman. Aku bisa menggunakan laptop dengan leluasa. Bahkan aku sempat membuat video unboxing di kamar tersebut.

Untuk kenyamanan saat bekerja di kamar hotel, aku cukup puas.

Review Hotel Sahid Jaya Solo
Meja cukup luas

Akses Internet

Sebagai hotel yang menargetkan pebisnis, tentu hotel Sahid Jaya Solo memberikan akses WiFi gratis dengan kecepatan yang cukup baik. Saat aku coba, kecepatannya bisa tembus hingga 10 MBPs untuk upload dan download.

Dengan akses internet seperti itu, aku bisa bekerja dengan tenang dan ga bikin bete.

Lain-lain

Hotel Sahid Jaya Solo berlokasi di tempat strategis. Mengakses tempat-tempat populer di Solo cukup mudah dan dekat. Jadi jika kalian ingin berlibur sekaligus bekerja, maka hotel ini bisa dijadikan alternatif.

Menu sarapannya biasa saja, baik dari variasi menu ataupun cita rasanya. Terlebih aku juga mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan ketika memesan omelette. Pelayan yang ada disitu kurang ramah dan tidak memberikan pesanan sesuai antrian. Aku pesan pertama, tapi pelayan tersebut selalu mendahulukan bapak-bapak DPRD yang ada di meja lain.

Mungkin pelayan tersebut berfikir bahwa orang tua harus dilayani terlebih dulu. Ya sudahlah.

Review Hotel Sahid Jaya Solo

Pengalaman

Sebagai diigital nomad, aku cukup puas dengan fasilitas yang disediakan untuk menunjang produktifitas. Meja nyaman, akses internet cepat dan ruangan lega merupakan syarat kenyamanan bagiku. Hotel Sahid Jaya Solomemberikan itu semua.

Untuk trip keluarga, hotel ini juga cukup nyaman. Lokasi strategis, dekat dengan tempat-tempat populer di kota Solo adalah nilai positif.

Namun jika kalian adalah generasi millenial, hotel ini bukan untuk kalian. Karena interior hotel ini begitu jadul dan tidak Instagramable.

Sebagai digital nomad, Hotel Sahid Jaya Solo aku beri nilai 7/10.