Categories
Tempat Kerja

Aeropolis: Kawasan Untuk Digital Nomad

Pertengahan Januari kemarin, aku berkesempatan menjelajahi kawasan Aeropolis Tangerang, Banten.

Kunjungan tak sengaja ini karena diajak oleh teman-teman blogger yang memang hobi jalan-jalan, atau mereka menyebut dirinya sebagai travel blogger.

Sebagai seorang digital nomad, Aeropolis ini memiliki konsep yang menarik. Terletak di dekat Bandara Internasional Sukarno-Hatta, Aeropolis sepertinya ditujukan untuk orang-orang yang suka bepergian (frequent flayer). Bisa para digital nomad ataupun kru bandara (pilot, pramugari dan semacamnya).

Fasilitas Aeropolis

Aeropolis Residence ini memiliki banyak fasilitas yang cukup membuat kita betah saat transit menuju ke lokasi selanjutnya.

Kita akan menemukan Aeropolis Apartment, Aeropolis Hotel (Swift Inn Aeropolis Airport), tempat makan (Oryx Bistro), tempat nongkrong, minimarket, pusat kebugaran, live music, dll.

Nah di bawah ini, aku akan menuliskan ulasan singkat beberapa Fasilitas yang aku coba di Aeropolis Residence.

Aeropolis Apartment

Apartment yang ditawarkan oleh Aeropolis ini ternyata cukup murah (aku membandingkannya dengan kota Jogja), yaitu 230 juta untuk yang tipe Lucent (1 kamar tidur,  dapur, ruang tv, dan kamar mandi.), dan Crystal Residence (2 kamar tidur,
ada ruang tamu, ruang makan, kamar mandi dan dapur).

Untuk tipe Crystal Residence sudah sold out.

Jika kalian tak mau membeli, dan hanya ingin menyewa, dengan harga mulai 1.8 juta per bulan, kalian sudah bisa “ngekos” di  Aeropolis Apartment, full furnish!

Aeropolis Hotel

Buat yang hanya satu-dua hari saja untuk transit di dekat bandara, Aeropolis juga menyediakan hotel yang bernama Swift Inn Aeropolis Airport.

Fasilitas yang diberikan oleh Swift Inn Aeropolis ini cukup memadai untuk transit. Kita bisa memilih jenis kamar dengan ranjang yang single atau double.

Mereka juga menyediakan toiletries, air minum gratis, AC, televisi dengan saluran mancanegara dan koneksi wifi gratis.

Ukuran kamar yang disediakan cukup kecil dan tidak ada tempat yang nyaman untuk sholat di kamar. Namun jangan khawatir, pihak hotel menyediakan musholla buat kalian yang ingin menunaikan ibadah sholat.

Untuk harga menginap per malam, rate yang diberikan cukup terjangkau, yaitu mulai 200-an ribu.

Hotel ini juga menyediakan sewa per 8 jam, jika kalian hanya menginginkan transit sebentar saja.

Oryx Bistro

Terletak di seberang hotel Swift Inn Aeropolis, tempat ini bisa menjadi tujuan kalian jika lapar mulai menyerang. Ada beberapa menu yang bisa dipilih.

Tempat ini juga enak digunakan untuk meeting kecil.

Ingin mencari suasana lain? di sebelah Oryx Bistro juga terdapat beberapa tempat ngopi dan makan yang bervariasi.

Jika kalian menginap di Hotel Swift Inn Aeropolis, maka datangilah resepsionis untuk mengambil kupon sarapan.

Live Music

Hiburan yang hadir setiap akhir pekan. Saat aku di sana, ada hiburan music akustik yang menghibur orang-orang yang tinggal atau hanya menginap di daerah Aeropolis dan sekitarnya.

Suasana di acara itu cukup ramai dengan anak-anak muda yang tampaknya sedang menikmati waktunya di akhir pekan.

Pusat Kebugaran

Aeropolis menyediakan kolam renang dan tempat gym. Aku tidak mencoba kolam renangnya (karena belum bisa berenang, haha), namun mereka memiliki kolam renang yang cukup luas.

Untuk tempat gym, mereka memiliki alat-alat yang sudah menjadi standar tempat gym yang baik. Bahkan di sana terdapat alat untuk mengukur BMI (body mass index).

Jadi, Meskipun kalian bepergian dan jauh dari rumah, tetap bisa berolahraga dengan baik dan nyaman.

Fasilitas ini gratis untuk kalian yang menginap di hotel Swift Inn Aeropolis.

Shulter Bus

Mereka juga menyediakan shuttle bus ke arah bandara dengan biaya Rp 15.000. Bis ini berangkat setiap 2 jam sekali dan beroperasi dari pukul 3 dini hari hingga 9 malam.

Jadi kalian tak perlu khawatir akan transportasi ke bandara jika menginap di Aeropolis Residence.

Namun jika kalian terburu-buru, transportasi online bisa menjadi alternatif pilihan untuk menuju bandara.

Aku sempat bilang ke mas Said sebagai pengelola Aeropolis, bahwa akan seru jika Aeropolis memiliki co-working space sendiri. Karena akan menjadi nilai tambah sebagai kawasan untuk orang-orang nomadic.

Wisata Tangerang

Ini yang bikin aku sedikit kaget sih. Selama ini aku mengira Tangerang adalah kota industry. Dan di kepalaku tidak pernah menyangka bahwa Tangerang memiliki tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Dan hey! Tangerang juga memiliki abang-none mereka sendiri yang gelarnya adalah Ning dan Nong.

Aku mengunjungi beberapa tempat yang direkomendasikan, yaitu kuliner Laksa, Kampung Bekelir dan Jembatan Berendeng.

Kuliner Laksa

Laksa yang disajikan di Tangerang memiliki tekstur mie yang berbeda. Sekilas bentuknya mirip dengan spaghetti, namun teksturnya sangat berbeda.

Mie nya sepertinya terbuar dari teupung beras dan disiram dengan kuah yang sudah dicampur dengan banyak bumbu.

Rasanya? tentu nikmat. Terlebih lagi aku menikmati Laksa Tangerang saat sedang gerimis. Syahdu.

Kampung Bekelir

Siapa sangka pemukiman kumuh bisa disulap menjadi tempat Wisata. Kampung Bekelir awal mulanya merupakan kampung kumuh yang dihuni oleh puluhan kepala keluarga. Namun karena inisiatif warga dan dukungan dari berbagai pihak, Kampung Bekelir mampu menjadi daya tarik tersendiri.

Daya tarik kampung ini terletak pada mural yang ada di setiap rumah. Mural-mural tersebut dibuat oleh ratusan seniman Indonesia.

Hadirnya mural tersebut tidak hanya membuat Kampung Bekelir menjadi berwarna, namun juga menjadikan kampung ini sebagai juara pertama tingkat nasional sebagai kampung terbaik di Indonesia.

Buat yang hobi selfie, kampung ini memiliki banyak spot yang menarik untuk bikin feed Instagram kalian tampak lebih asik.

Jembatan Berendeng

Menjadi salah satu ikon kota Tangerang. Jembatan Berendeng menghubungkan kawasan kelurahan Tangerang atau Benteng dengan Gerendeng. Jembatan ini berada di atas Sungai Cisadane.

Berkunjung di malam hari sepertinya lebih menarik, karena kita akan melihat pemandangan lampu-lampu rumah warga kota Tangerang.

Ada satu tempat ikonik yang biasa digunakan untuk berfoto, yaitu jembatan yang memiliki lantai tembus pandang. Jadi kita bisa melihat sungai dari atas.

Nah jika kebetulan kalian sedang berkunjung ke Tangerang, cobalah untuk mencoba menikmati kawasan Aeropolis. Siapa tahu tertarik untuk membeli apartment nya untuk investasi.

Categories
Tempat Kerja

Aroma Kasongan: Tempat Yang Cocok Saat Butuh Inspirasi

Aroma Kasongan adalah tempat baru yang aku datangi kali ini. Sebagai pekerja digital yang dituntut untuk terus belajar hal-hal baru, terkadang aku mengalami kebuntuan mencari inspirasi atau ide ide keren untuk membantu pekerjaanku.

Jika sudah seperti itu, maka solusinya adalah bekerja di tempat yang rileks dan alami.

Beruntung, di Jogja, tepatnya di kabupaten Bantul, ada tempat yang bisa membantuku untuk bisa rileks dan tetap bekerja dengan nyaman.

Ruangan Aroma Kasongan

Aroma Kasongan, merupakan semacam cafe (mereka menyebutnya warung) yang memiliki konsep klasik dengan interior yang mayoritas terbuat dari kayu jati. Mirip dengan Kedai Den Wir, namun interiornya lebih tertata.

Ada dua ruangan yang tersedia di Aroma Kasongan, luar ruangan dan yang berada di dalam ruangan. Dan sepertinya semua ruangan ini diperbolehkan untuk merokok.

Aku lebih suka bekerja di luar ruangan karena ada pemandangan sawah yang hijau. Hal terbaik yang ada di tempat ini.

Jika tidak ingin bekerja, Aroma Kasongan juga enak buat ngobrol bersama teman atau pasangan.

Semilir angin yang berhembus setiap saat bisa menambah semangat bekerja, tapi bisa juga bikin mata megantuk, apalagi jika kalian datang pada siang hari. Sungguh melenakan.

Hati-hati juga dengan penyakit masuk angin jika kalian sudah masuk usia uzur :p

Akses Internet

Syarat wajib untuk bekerja dengan nyaman adalah akses internet kencang. Aroma Kasongan memberikan hal itu. Hasil tes kecepatan yang aku dapatkan tidak mengecewakan.

Tidak hanya di atas kertas, pengalaman menggunakan akses internet di tempat ini sangat memuaskan, mengunduh beberapa file dengan ukuran besar tidak membutuhkan waktu lama.

Akses internet di tempat ini sungguh menyenangkan!

Speedtest Aroma Kasongan

Lain-Lain

Aroma Kasongan
Menu Aroma Kasongan

Menu makanan yang disajikan tidak terlalu banyak variasinya. Soal rasa, makanan yang disajikan cukup enak. Aku memesan es Gula Asem, teh panas dan tahu isi jamur. Total pengeluaran Rp 40.000,-. Aku cukup puas.

Kekurangannya, aku tidak menemukan tempat sholat, jadi agak susah jika harus bekerja dalam waktu yang lama.

Pengalaman

Aku cukup puas bekerja di sini, selain koneksinya yang cepat, suasana dari tempat ini cukup rileks dan nyaman. Waktu terasa lambat, berbeda ketika aku bekerja di tempat lain.

Jika kalian adalah pelancong, maka menuju tempat ini sungguh menyenangkan. Warung ini tepat berada di area desa wisata. Jadi kalian bisa sekalian berbelanja barang-barang kerajinan khas Kasongan.

Sekedar saran, datanglah pada sore hari agar bisa menikmati suasana yang lebih syahdu.

Lokasi: klik di sini.

Aroma Kasongan aku beri skor 9/10.

Categories
Tempat Kerja

Hotel Sahid Jaya Solo: Bukan Untuk Digital Nomad Millenial

Jika pada kunjungan pertama ke kota Solo aku menginap di Hotel Fave Adisucipto, maka pada kunjungan kedua, aku memutuskan untuk menginap di Hotel Sahid Jaya Solo.

Jadi inilah kesanku sebagai digital nomad saat menginap satu malam di hotel Sahid Jaya Solo.

Aku memesan hotel ini melalui aplikasi Traveloka dan mendapatkan harga 300-an ribu. Aku pesan yang twin bed (karena paling murah), tapi ketika check-in, aku bisa mengubahnya menjadi yang single bed.

Ruangan

Yang aku suka dari ruangan Hotel Sahid Jaya Solo adalah ukurannya yang besar dan luas. Karena memang hotel ini adalah hotel yang ditujukan untuk trip keluarga atau bisnis.

Yang tidak aku suka, interior dari hotel ini jadul dan bergaya 90-an. Jadi buat kalian para millenial, tentu hotel ini bukan pilihan tepat, karena interiornya tidak canti jika diunggah ke Instagram

Karena ruangan luas, maka di kamar hotel ini aku mendapatkan meja kerja yang cukup nyaman. Aku bisa menggunakan laptop dengan leluasa. Bahkan aku sempat membuat video unboxing di kamar tersebut.

Untuk kenyamanan saat bekerja di kamar hotel, aku cukup puas.

Review Hotel Sahid Jaya Solo
Meja cukup luas

Akses Internet

Sebagai hotel yang menargetkan pebisnis, tentu hotel Sahid Jaya Solo memberikan akses WiFi gratis dengan kecepatan yang cukup baik. Saat aku coba, kecepatannya bisa tembus hingga 10 MBPs untuk upload dan download.

Dengan akses internet seperti itu, aku bisa bekerja dengan tenang dan ga bikin bete.

Lain-lain

Hotel Sahid Jaya Solo berlokasi di tempat strategis. Mengakses tempat-tempat populer di Solo cukup mudah dan dekat. Jadi jika kalian ingin berlibur sekaligus bekerja, maka hotel ini bisa dijadikan alternatif.

Menu sarapannya biasa saja, baik dari variasi menu ataupun cita rasanya. Terlebih aku juga mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan ketika memesan omelette. Pelayan yang ada disitu kurang ramah dan tidak memberikan pesanan sesuai antrian. Aku pesan pertama, tapi pelayan tersebut selalu mendahulukan bapak-bapak DPRD yang ada di meja lain.

Mungkin pelayan tersebut berfikir bahwa orang tua harus dilayani terlebih dulu. Ya sudahlah.

Review Hotel Sahid Jaya Solo

Pengalaman

Sebagai diigital nomad, aku cukup puas dengan fasilitas yang disediakan untuk menunjang produktifitas. Meja nyaman, akses internet cepat dan ruangan lega merupakan syarat kenyamanan bagiku. Hotel Sahid Jaya Solomemberikan itu semua.

Untuk trip keluarga, hotel ini juga cukup nyaman. Lokasi strategis, dekat dengan tempat-tempat populer di kota Solo adalah nilai positif.

Namun jika kalian adalah generasi millenial, hotel ini bukan untuk kalian. Karena interior hotel ini begitu jadul dan tidak Instagramable.

Sebagai digital nomad, Hotel Sahid Jaya Solo aku beri nilai 7/10.

Categories
Tempat Kerja

Kedai Den Wir: Bekerja Sambil Menikmati Suasana Pedesaan

Bekerja di tempat yang nyaman dan tenang akan meningkatkan konsentrasi dan produktifitas.

Jika kalian sedang berada di kota Jogja, ada satu tempat yang bisa membuat kalian nyaman dan tenang dalam bekerja karena ruangan dan suasananya yang pedesaan banget.

Ruangan

Berbeda dengan Super Hotspot, Kedai Den Wir menyediakan ruangan bergaya kuno dengan mebel terbuat dari kayu jati. Ruangan ini mengingatkanku pada rumah-rumah milik bangsawan jaman kolonial Belanda.

Bangunannya bergaya arsitektur joglo, terbuka, tanpa adanya tembok semen. Jika kalian ingin menikmati gaya lesehan, ada pendopo kecil yang bisa dipilih sebagai tempat duduk.

Suasan pedesaan semakin terasa dengan pemandangan sawah dan pohon-pohon hijau di sekitar kedai Den Wir. Jika kalian pernah ke Hubud Co-working space, maka kalian akan familiar dengan suasananya.

Karena konsepnya yang terbuka, maka tidak ada AC, namun masih ada kipas angin yang bisa digunakan. Jadi, jika kalian tidak ingin berpanas-panas, aku sarankan ke tempat ini pada waktu sore atau malam hari.

Menurutku, konsep dari Kedai Den Wir ini adalah tempat nongkrong bareng, bukan di desain sebagai tempat kerja bersama. Namun banyaknya orang yang membawa laptop, membuktikan bahwa tempat ini juga cukup nyaman untuk bekerja.

 

Akses Internet

Secara mengejutkan, akses internet di kedai Den Wir cukup cepat. Aku coba untuk uji kecepatanhasilnya bisa kalian lihat pada tangkapan layar di bawah.

Tentu hasil itu bergantung pada trefik pengunjung. Aku melakukan uji kecepatan pada pagi dan sore hari, dan hasilnya membuatku senang.

Untuk mendapatkan akses internet gratis, kalian perlu bertanya kata kunci WiFi pada pelayan kedai. Karena, kata kunci tersebut berubah setiap hari.

Lain-lain

Menu yang disediakan bergaya Indonesia, dengan harga yang terjangkau. Kalian bisa menemukan sayur lodeh, teh poci, jamu, gorengan ataupun kripik-kripik yang bisa dipakai untuk senam mulut.

Pengalaman

Aku puas saat mencoba Kedai Den Wir sebagai tempat kerja dan nongkrong. Menu yang terjangkau, akses internet cepat serta suasana tenang dan nyaman merupakan hal positif yang bisa aku dapatkan di tempat ini.

Sekedar catatan buat kalian yang tidak bisa hidup jika berada di ruangan non-AC, saranku adalah untuk ke tempat ini saat malam.

Buat kalian yang membutuhkan ketenangan saat bekerja, kalian bisa datang pada pukul 9:00 – 19:00 WIB. Di atas jam tersebut, kedai ini bakal ramai pengunjung.

Kedai Den Wir aku beri skor 8/10.

Categories
Tempat Kerja

Fave Hotel Adisucipto Solo: Bukan Untuk Digital Nomad

Beberapa minggu lalu, aku mendapatkan undangan dari seorang kawan untuk menghadiri acara Kopdar Blogger di Rumah Blogger Indonesia yang bertempat di Solo.

Di Solo, aku diberi privilege untuk menginap di Fave Hotel Adisucipto. Dan inilah reviewku menginap selama satu malam di hotel tersebut.

Ruangan

Aku dapat kamar double bed non-smoking, karena memang penyelenggara acara memesan satu kamar untuk dua peserta Kopdar Blogger.

Secara desain interior, tak jauh beda dengan hotel budget sejenis, Fave Hotel Adisucipto ini memberikan desain interior minimalis, tanpa ada almari.

Jadi ya memang sesuai tujuannya, hotel budget memang sejatinya digunakan cuman buat ‘naruh pantat’ saja setelah lelah berjalan-jalan.

Namun buat aku, jalan-jalan dan bekerja tidak bisa dipisahkan, jadi aku juga akan mengulas bagaimana kenyamanan kamar dari Fave Hotel Adisucipto untuk bekerja.

Meja yang disediakan cukup kecil, untungnya, aku membawa laptop ZenBook 3 UX390UA ku yang super tipis, jadi aku masih bisa membuka ‘kantor’ ku.

Tapi tetap saja, secara kenyamanan, bekerja di meja kecil yang hanya muat untuk satu laptop saja tidaklah nyaman. Aku memilih untuk beralih ke kasur untu menyelesaikan deadline.

Akses Internet

Nah, ini juga menjadi nilai minus dari Fave Hotel Adisucipto. Kecepatan internetnya lambat, bahkan aku harus menggunakan duet paket data XL dengan ponsel Huawei P10 untuk tethering. Seperti ketika aku harus bekerja di Loko Cafe Lempuyangan.

Untuk ruangan, aku masih bisa memaklumi jika Fave Hotel Adisucipto memang ditujukan hanya untuk beristirahat saja. Namun akses internet tidak boleh ditawar di era sekarang.

Pelanggan akan senang jika bisa mengunggah hasil foto atau video ke media sosial atau melakukan backup ke Google Photo.

Pengalaman

Jika berbicara pengalaman, maka aku akan membaginya menjadi dua sudut pandang. Fave Hotel Adisucipto cukup nyaman untuk dipakai sebagai tempat istirahat yang tidak menguras kantong. Pelayanannya juga ramah.

Namun jika melihat sudut pandang sebagai digital nomad, maka Fave Hotel Adisucipto kurang memberikan fasilitas yang nyaman.

Kalian mungkin bisa saja mencoba bekerja di lobi atau tempat lain di luar kamar. Namun bagiku, bekerja di dalam kamar lebih nyaman dan bisa lebih bebas.

Lain-lain

Menu sarapan yang disediakan cukup banyak pilihan dan menu yang disajikan kebanyakan adalah menu Indonesia. Rasanya cukup enak, kecuali omelette nya.

Sebagai digital nomad, Fave Hotel Adisucipto aku beri skor 6/10.

 

Categories
Tempat Kerja

Loko Cafe Lempuyangan: Tetap Nyaman Bekerja Sembari Menunggu Kereta

Saat menggunakan kereta api Pramex sebagai transportasi untuk bepergian ke kota Solo, aku punya satu tempat favorit untuk menunggu kedatangan kereta api sambil menyelesaikan pekerjaan. Tempat itu adalah Loko Cafe.

Ruangan

Loko Cafe yang aku coba ada di stasiun Lempuyangan. Cafe ini memiliki ukuran yang cukup lega untuk ukuran cafe stasiun. Interiornya juga cukup menarik dan instagrammable. Ada pilihan kursi tinggi (bar) yang bisa digunakan jika kalian hanya ingin menghabiskan waktu untuk ngobrol dengan teman.

Aku tidak tahu apakah cafe ini menyediakan ruangan untuk perokok atau tidak.

Akses Internet

Ini yang sedikit mengganjal. Tempat ini di Lempuyangan belum dilengkapi oleh WiFi yang bisa di akses oleh pelanggan. Menurut waitress-nya, saat ini belum menyediakan fasilitas tersebut karena setup-nya belum selesai. Jadi aku menggunakan smartphone Huawei P10-ku sebagai modem.

Pengalaman

Saat itu, keadaan cafe cukup sepi, jadi aku cukup nyaman ketika bekerja di sana. Ukuran kursi dan meja juga sudah cukup nyaman untuk bekerja selama satu jam lebih.

Loko Cafe tidak menyediakan toilet sendiri, jadi saranku, jika ingin berada di cafe ini dalam waktu yang cukup lama, sebaiknya kalian masuk terlebih dulu ke peron dan menuju ke Loko Cafe dari pintu dalam.

Lain-lain

Loko Cafe menghadirkan menu lokal yang cukup bervariasi dengan harga yang cukup bersaing dengan beberapa tempat makan yang ada di sekitar Stasiun Lempuyangan.

Aku memesan Bakmi Godhog dan teh tawar dengan harga kurang dari 30 ribu rupiah. Soal rasa, aku menilai 7/10.

Secara keseluruhan, tempat ini cukup nyaman sebagai tempat untuk menunggu kedatangan kereta api sambil menyelesaikan pekerjaan atau menulis blog.

Loko Cafe aku beri skor 7/10.

PS: Loko Cafe merupakan tempat makan yang dikelola oleh PT Reska Multi Usaha yang merupakan anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia.

Dibalik cerita: Aku tertinggal kereta Pramex beberapa detik, sehingga mengharuskanku untuk menunggu 90 menit untuk kereta berikutnya. 

Categories
Tempat Kerja

Pengalaman Ke Tea Factory: Kerja Apa Nongkrong?

Kemarin, aku bersama beberapa teman freelancer dan blogger memutuskan untuk mengunjungi Tea Factory Yogyakarta, yang beralamat di Jl. Bumijo No.2, Jetis. Seperti biasanya, aku kesana untuk bekerja sekaligus nongkrong sambil ngrasani kanca-kancane.

Aku baru pertama kali mengunjungi Tea Factory, dan ini adalah kesan dan pendapatku mengenai tempat ini jika digunakan untuk bekerja.

Ruangan

terdiri dari dua ruangan, yaitu ruangan non-smoking dan smoking area. Keduanya memiliki interior yang bagus. Ada meja dan kursi tinggi khas bar yang letaknya berada di ruangan merokok.

Yang menjadi nilai minus dari tempat ini adalah area parkirnya yang kecil.

kursi dan meja tinggi

Akses Internet

Kecepatan internet di tempat ini cukup kencang. Aku lupa untuk melakukan speedtest, namun aku bisa melakukan download banyak file dalam waktu singkat.

Akses internet yang disediakan oleh Tea Factory bisa kalian gunakan secara gratis, alias tidak ada biaya tambahan seperti yang ada di Super Hotspot Cafe Merapi.

Pengalaman

Bukan tempat favorit untuk bekerja, lebih cocok buat ngobrol santai bareng teman atau mungkin klien.

Tapi jika ingin bekerja di tempat ini, saranku pilihlah ruangan yang non-smoking karena tidak terlalu terganggu dengan kendaraan yang lewat.

Meski bukan jalan utama, jalan tersebut sering dijadikan jalan alternatif untuk orang-orang yang malas mendapati kemacetan di sekitaran Jl Diponegoro.

Lain-lain

Tea factory tidak menyediakan musholla. Jadi buat yang ingin mengerjakan sholat, kalian harus nebeng sholat di mushola yang ada di kantor pemerintahan yang letaknya persis di seberang dari tea Factory.

Makanan yang disajikan terdiri dari snack dan makanan besar. Seperti namanya, menu khas dari tempat tersebut adalah teh ala Taiwan dengan berbagai pilihan (aku memesan Vietnam Coffee).

Harganya juga cukup terjangkau, mulai dari 10 ribuan hingga 20 ribuan.

Sebagai digital nomad, aku memberi skor 7/10 untuk Tea Factory.